Jumat, 11 Des 2015 17:13 WIB

Aplikasi Anak Bangsa Masih Dipandang Sebelah Mata

Rachmatunnisa - detikInet
Calvin Kizana (dok. pribadi) Calvin Kizana (dok. pribadi)
Jakarta - Tantangan berkarya bisa datang dari mana saja. Bagi founder dan CEO Inovidea Calvin Kizana, tantangan adalah mendapatkan kepercayaan dari publik di dalam negeri.

Dikatakannya, sebagian masyarakat Indonesia masih tidak percaya dengan produk yang dibuat oleh bangsa sendiri. Hal ini tak hanya terjadi di pasar aplikasi dan game, tetapi terjadi di hampir semua industri.

"Karena persepsi masyarakat Indonesia terhadap produk lokal itu masih memandang sebelah mata. Kalau game mungkin dibilang gak keren lah, kalau apps dibilang banyak bugs segala macam," kata Calvin saat berbicara di acara Google Indonesian Developer Showcase.

Kondisi semacam ini, membuat Calvin putar otak mengatur strategi. Caranya adalah dengan memikirkan kemasan dan penamaan yang seolah mengesankan aplikasi buatannya buatan developer luar negeri.

Dia kemudian berbagi pengalamannya ketika memperkenalkan aplikasi PicMix. Dikatakan Calvin, dia dan timnya sengaja menahan diri untuk tidak mempublikasikan startup mereka dulu, menunggu hingga ada cukup banyak pengguna yang puas dengan aplikasinya.

"Kita sengaja keep quiet, agar jangan sampai kita belum mencapai sesuatu, nanti orang berpikir, ah ini buatan Indonesia jangan dipake deh," kenangnya.

Ketika download PicMix tembus 10 juta, baru kemudian Calvin percaya diri mempublikasikan perusahaan dan aplikasinya. Pada saat itu memang cukup banyak yang terkejut setelah mengetahui PicMix ternyata made in Indonesia.

Angka download aplikasi kreasi foto kolase tersebut saat ini mencapai 100 juta. Yang menarik, aplikasi ini justru lebih dulu dikenal di luar negeri, dengan pengguna terbesar Afrika Selatan dan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

"Kalau berkaca tiga empat tahun lalu kita much much better. Masalahnya ada masyarakat yang gak percaya we can make something good. Dengan adanya event seperti Google ini that's how we known by Indonesian that we can build something dan masuk pasar global," jelasnya.

Calvin punya keinginan agar suatu hari para developer aplikasi Indonesia mendapatkan tempat di negeri sendiri, seperti yang terjadi di China. Di negeri Tirai Bambu tersebut, produk lokal termasuk aplikasi berkembang pesat.

"Itu karena ekosistemnya dan dukungan pemerintah juga. Harapan saya dan mungkin juga teman-teman developer lain adalah seperti itu. Cuma sekarang itu balik lagi society mindset-nya masih merasa lebih keren kalau pakai yang dari luar," pungkasnya.

(rns/ash)