Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Laporan dari Dubai
Internet: Kuburan Bagi yang Malas Berinovasi
Laporan dari Dubai

Internet: Kuburan Bagi yang Malas Berinovasi


Achmad Rouzni Noor II - detikInet

John Chambers, Executive Chairman & mantan CEO Cisco (rou/detikINET)
Dubai -

Internet membuka jutaan peluang baru sekaligus menjadi kuburan bagi yang malas berinovasi. Anda harus memilih salah satu dari kedua sisi ini: terus berinovasi agar bisa bertahan, atau memilih mati perlahan-lahan tanpa perlawanan.

Sudah banyak contoh yang bisa kita lihat dari kedua sisi internet. Friendster, misalnya. Di saat masa-masa jayanya, siapa yang tak kenal jejaring sosial yang satu ini. Namun dalam sekejap, kerajaan itu pun runtuh sejak hadirnya inovasi baru dari seorang anak ingusan bernama Mark Zuckerberg: Facebook.

Dalam satu dekade terakhir, Facebook masih tetap bertahan meskipun banyak media sosial yang datang menghadang. Kuncinya cuma satu, terus berinovasi -- apapun caranya. Begitupun dengan Google yang berhasil mengangkangi Yahoo. Dan masih banyak contoh lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Internet saat ini tak cuma menghubungkan manusia dengan manusia lainnya. Internet telah berevolusi. Kini, internet pun telah merasuki segala perangkat. Internet of Things (IoT) mereka menyebutnya. Sebuah era baru di dunia teknologi informasi.

Dengan dimulainya sebuah era baru, pastinya akan membuka banyak sekali peluang: jutaan, miliaran, bahkan lebih. Namun era baru ini juga bisa menjadi sebuah akhir dari era yang lama -- seperti yang sudah-sudah.

"Survival for the fittest," demikian disampaikan Executive Chairman Cisco, John Thomas Chambers, saat menemui perwakilan media dari seluruh dunia, termasuk detikINET, di sela IoT World Forum 2015 di Dubai, Uni Emirat Arab.

Ia menjelaskan pandangannya akan IoT. Menurutnya, IoT bukan hanya sekedar teknologi baru, tetapi juga jalan menuju banyak peluang baru. IoT sendiri memang tidak diterima begitu saja oleh berbagai pihak.

Tidak sedikit yang masih meragukan apa yang bisa ditawarkan oleh hal yang satu ini. Bahkan, tidak sedikit anggapan bahwa IoT hanya sekedar teknologi baru yang bisa diadopsi bilamana memang dirasa telah dibutuhkan.

Sayangnya, pandangan ini justru bisa berbalik menyerang siapapun yang memandang IoT hanya sebagai sebuah teknologi baru. IoT sendiri harus lebih dipandang sebagai sebuah jalan menuju peluang baru.

Bagi John yang puluhan tahun memimpin Cisco, adopsi IoT ini sendiri telah menunjukkan bahwa siapa yang cepat mengadopsinya ternyata bisa menawarkan nilai lebih, yang pada akhirnya menjadi penghambat bagi yang belum mengadopsinya.

Ia memandang, IoT benar-benar telah mengubah dunia. Tidak peduli seberapa besar sebuah kota, atau seberapa kuat suatu perusahaan, lawan dengan skala yang lebih kecil yang memiliki daya adaptasi lebih cepat dengan IoT ternyata telah menunjukkan daya saing yang lebih baik.

Tanpa disadari, menurut mantan orang nomor satu di perusahan teknologi asal San Francisco tersebut, lawan dengan implementasi IoT bisa jadi jauh melampaui pihak yang enggan beradaptasi dengan pergerakan IoT yang sangat cepat ini.

Terkait adopsi IoT sendiri, memang masih banyak hal yang membuat suatu pihak menunda, atau bahkan belum memikirkan hal itu. Hal ini tidak lain disebabkan masih kurangnya kesadaran bahwa IoT mampu menjadi pembuka kesempatan baru.

Terlebih lagi banyak pihak terkait IoT yang lebih suka menonjolkan apa yang mereka tahu, bukan gambaran luas terkait manfaat IoT. Dalam hal ini, menurut John, sebaiknya semua pihak terkait berjalan bersama untuk membahas masalah itu bersama.

John percaya, kolaborasi akan menjadi kunci yang sangat menentukan dalam mendorong adopsi IoT ini sendiri. Tanpa kolaborasi yang baik, tidak akan ada tawaran IoT yang bisa memberikan nilai jauh lebih baik bagi para pengadopsinya, dibandingkan dengan potensi yang ada.

Oleh karena itu, Cisco ingin agar adopsi IoT ini tidak disikapi sebagai sekedar adopsi teknologi baru belaka, tetapi sebabai pembuka banyak sekali kemungkinan yang bisa menguntungkan banyak pihak di waktu yang akan segera datang.

"Kita lihat, bagaimana Uber dan AirBnb berhasil membuat disruptive innovation. Uber menjadi perusahaan taksi terbesar di dunia padahal tak punya taksi. AirBnb jadi raja di bisnis hospitality padahal tak punya hotel. Kita semua dituntut agar terus disruptif. Pilihannya cuma satu: be disruptive or be disrupted," pungkas John.

(rou/fyk)





Hide Ads