Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ikan Sapu-sapu Bisa Dibudi Daya Seperti Ikan Lele, Asalkan....

Ikan Sapu-sapu Bisa Dibudi Daya Seperti Ikan Lele, Asalkan....


Virgina Maulita Putri - detikInet

Ikan sapu-sapu. (San Antonio River Authority)
Ikan Sapu-sapu Bisa Dibudi Daya Seperti Ikan Lele, Asalkan.... Foto: Ikan sapu-sapu. (San Antonio River Authority)
Jakarta -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah merumuskan cara untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu. Jika cara eradikasi saja dinilai tidak cukup, BRIN tidak menutup kemungkinan untuk memanfaatkan ikan sapu-sapu lewat budi daya.

Triyanto, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN mengatakan ikan yang umum dikonsumsi seperti ikan nila, ikan mas, ikan mujair, dan ikan lele sebenarnya merupakan spesies ikan asing, sama seperti ikan sapu-sapu.

"Ini ikan asing juga tapi ini dulu dimasukkan ke Indonesia itu rata-rata untuk, karena mudah dikembang biakkan dan dibudidayakan, ketahanan pangan," kata Triyanto dalam acara Media Lounge Discussion BRIN di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Menurut Triyanto ikan sapu-sapu juga bisa dibudidayakan seperti ikan-ikan di atas, walaupun citranya saat ini masih negatif. Ia mencontohkan pada tahun 1980-an banyak yang enggan makan lele karena hidupnya di empang, Namun setelah dibudidayakan di fasilitas yang bersih dan sesuai, ikan lele banyak dikonsumsi.

Triyanto, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN (tengah)Triyanto, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN (tengah) Foto: Screenshot/detikINET

Namun, budi daya ikan sapu-sapu tidak bisa dilakukan sembarangan. Sejumlah penelitian menemukan kandungan logam berat di daging ikan sapu-sapu seperti timbal, merkuri, kadmium, dan kromium yang diduga dapat menimbulkan kerusakan hati dan ginjal, juga bakteri E. coli.

"Jadi masyarakat yang sudah terlanjur cinta sapu-sapu, ada solusinya kita bersihkan, kita kembangkan, kita pelihara di perairan yang bersih," jelas Triyanto.

"Ada informasi pak kalau mengandung logam berat. Itu karena hidupnya di air tercemar, dia juga nggak mau ada logam berat," imbuhnya.

Ikan sapu-sapu yang dibudidayakan bisa dimanfaatkan untuk banyak hal. Triyanto mencontohkan ikan ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan untuk ikan non-konsumsi, pupuk, hingga arang seperti digadang-gadang Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Triyanto juga menyinggung praktek penjualan siomay dan batagor yang dicampur dengan daging ikan sapu-sapu. Menurutnya kandungan logam berat di daging ikan sapu-sapu masih jauh di bawah ambang batas, jadi asalkan warga tidak makan siomay ikan sapu-sapu dalam jumlah banyak dan terus menerus seharusnya belum terpapar logam berat.

"Kalau nggak salah para peneliti di bagian kesehatan kurang lebih 8kg seminggu, berarti sehari satu kilo. Sanggup sehari makan siomay satu kilo?" ucap Triyanto.

"Paling semangkok isinya lima, dan sapu sapunya paling 20-30%. Jadi kalau kita makan berturut-turut selama sekian tahun, satu minggunya delapan kilo, baru kita terpapar logam berat," pungkasnya.




(vmp/afr)
TAGS





Hide Ads