Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Mampukah Pesawat Made in China Saingi Boeing & Airbus?

Mampukah Pesawat Made in China Saingi Boeing & Airbus?


Fino Yurio Kristo - detikInet

C919 (gettyimages)
Jakarta -

China berhasil mencapai ambisinya, membuat pesawat penumpang kelas medium yang diberi nama C919. Pemerintah dan publik China pun diliputi kebanggaan negaranya bisa membuat pesawat sebesar itu yang dirakit di China dan digadang-gadang menyaingi dominasi Airbus dan Boeing.

"Negara hebat harus memiliki pesawat komersial besar sendiri. Industri transportasi udara China tidak bisa sepenuhnya bergantung pada impor," kata Li Jiaxiang, President and General Manager of China National Aviation Holding Company (CNAHC) yang dikutip detikINET dari BBC, Selasa (11/2015).

Pesawat C919 diperkenalkan dalam sebuah acara meriah di hanggar dekat bandara Pudong International Airport di Shanghai. Sekitar 4 ribu orang hadir yang terdiri dari pejabat pemerintahan dan para tamu undangan. Lagu-lagu patriotis dinyanyikan dan bendera China pun berkibar-kibar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

C919 yang mampu menampung 168 penumpang ini didesain untuk berkompetisi dengan Airbus 320 dan Boeing 737. Pembuatnya adalah Commercial Aircraft Corp of China (COMAC) yang merupakan BUMN negara Tirai Bambu itu. Nama C sendiri adalah kependekan dari China.

Pesawat ini digadang-gadang sebagai pencapaian teknologi tinggi China, tapi sebenarnya banyak komponen dibuat oleh perusahaan luar. Avionik dibuat Rockwell Collins Inc dan mesinnya dikembangkan CFM International, joint venture General Electric Co dan Safran SA. Sedangkan power system dan landing gear adalah buatan Honeywell. Tapi di masa depan, COMAC sudah berencana membuat mesinnya sendiri.

China sudah memiliki ambisi membangun industri pesawat komersial sipil sejak tahun 1970. Kala itu, Jiang Qing yang adalah istri Mao Zedong, pemimpin China, mendukung proyeknya secara pribadi. Tapi baru sekarang ambisi China itu benar-benar terwujud melalui C919.

Lalu mampukah C919 menyaingi Airbus dan Boeing yang sudah lama malang melintang di industri pesawat terbang global? Para analis berpendapat masih butuh waktu panjang.

"Penumpang ingin terbang dengan pesawat yang punya track record keamanan, kehandalan dan kenyamanan. Perlu waktu beberapa dekade untuk membangun track record itu," demikian opini dari Vice Chairman Deloitte, Tom Captain.

Tapi Tom menggarisbawahi kalau Airbus pun dulu tidak terkenal. Sehingga jika terus berupaya, bukan tak mungkin pesawat made in china itu meraih banyak pesanan dari maskapai mancanegara. Sejauh ini, kebanyakan pesanan baru dari dalam negeri.

"Untuk mengejar Boeing dan Airbus adalah skenario ideal, tapi akan butuh waktu. Mendesain pesawat besar adalah proyek raksasa. Kami perlu bersabar dan memiliki keyakinan. Kemajuan tidak didapat dengan mudah," ujar Zhang Shuguang, analis penerbangan dari Beihang University, Beijing.

Saat diluncurkan perdana ke publik atau bisa disebut roll out di Shanghai, pesawat tersebut memang belum bisa terbang. Setelah proses roll out, pesawat masih harus menjalani uji struktur hingga uji sistem. Setelah itu, baru C919 bisa melakukan terbang perdana (first flight).

COMAC menargetkan penerbangan perdana baru bisa terlaksana di 2016. Proses pengujian dilakukan selama beberapa tahun. Proses ini diproyeksi memakan waktu 3 tahun, sebelum pesawat diproduksi secara massal.

(fyk/ash)




Hide Ads