Disampaikan Direktur Kampanye Change.org Indonesia, Arief Aziz, pihaknya dapat membantu siapapun yang tidak terkoneksi internet untuk membuat petisi online. Mereka cukup mengubungi pihak Change.org Indonesia saja.
Arief menceritakan pihaknya pernah melakukan tersebut, salah satunya terkait masalah kabut asap. Kala itu ada seorang warga dari daerah Sungai Tohor, Riau sengaja datang ke Jakarta ingin menyuarakan masalah kabut asap di daerahnya lewat petisi online.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Arief menerangkan saat ini jumlah anggota Change.org di Indonesia terus meningkat. Di tahun pertamanya pada Juni 2012, mereka hanya memiliki 8 ribu anggota. Akhir 2014, hampir menembus 1 juta. Saat ini Change.org punya 1,5 juta anggota di Indonesia.
Arief bersyukur seiring meningkatnya pengguna Change.org, pihak pemangku kepentingan di negeri ini makin mendengarkan aspirasi yang disuarakan lewat petisi online. Ia mengakui masih banyak petisi online yang belum didengar dan terselesaikan.
Karena itu, Arief coba memberikan tips agar petisi online yang dibuat dan menyita perhatian khalayak luas sehingga pada akhirnya dapat didengar pemerintah atau pihak yang dituju.
Pertama, bergerak cepat mengikuti momen. Misalnya momennya saat ini, maka buatlah petisi sekarang juga. Jangan ditunda hinga minggu atau bulan depan. "Atensi kita di media sosial cepat. Karena itu cenderung cepat lupa akan sebuah isu, ujar Arief.
Kedua, memiliki tuntutan yang spesifik dan target yang jelas. Misalnya kepada kepolisian untuk menangkap aktor intelektual dalam sebuah kasus.
Ketiga, gambar dan narasi personal yang kuat. Misalnya soal kabut asap, buatlah gambaran yang jelas situasi disana. Akan lebih baik lagi disertakan foto ataupun video sehingga orang akan lebih tersentuh dan akhirnya mendukung.
Terakhir, gunakan media sosial untuk menyebarkan petisi online tersebut. "Kalau hanya dibuat dan tidak disebar, petisi itu akan mati dengan sendirinya karena tidak dilihat oleh siapapun," pungkasnya.
(ash/ash)