Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Kolom Telematika
I-Doser, Operasi Plastik dan Dahsyatnya Viral Marketing
Kolom Telematika

I-Doser, Operasi Plastik dan Dahsyatnya Viral Marketing


Penulis: Alfons Tanujaya - detikInet

Jakarta -

Masih ingat cerita seorang istri yang diceraikan oleh suaminya karena melahirkan anak yang jelek sekitar tiga tahun yang lalu? Tabloid Heilongjiang mengarang cerita seorang wanita yang sebenarnya tidak cantik lalu melakukan operasi plastik sehingga menjadi cantik jelita demi menikahi suami yang ganteng.

Namun karena anak yang dilahirkan jelek, maka suaminya marah dan terungkap bahwa ia melakukan operasi plastik. Buntutnya istri tersebut diceraikan dan suami menuntut kerugian kepada istrinya tersebut. (lihat gambar 1)
Β 
Ini adalah salah satu contoh dari viral marketing yang memberikan dampak negatif pada korbannya. Cerita yang sebenarnya adalah Heidi Yeh, seorang model Taiwan yang memang cantik (bukan karena operasi plastik) dikontrak oleh agensi JWT J. Walter Thompson untuk melakukan sesi pemotretan untuk klinik kecantikan Simple Beauty.

Lalu oleh tabloid Heilongjiang direkayasa cerita palsu seolah-olah Heidi adalah wanita jelek yang menjalani operasi plastik dan diceraikan oleh suaminya dan hal ini rupanya dipercaya oleh banyak orang di seluruh dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibat dari viral marketing tersebut orang lebih mengenal Heidi Yeh sebagai orang jelek yang melakukan operasi plastik dan mengakibatkan rusaknya karirnya di permodelan dimana ia pelan-pelan kehilangan order dari pekerjaannya sebagai model karena cap salah yang diberikan tersebut. Sang model akhirnya memilih menuntut agensi talent dan klinik kecantikan tersebut.

Β 
Gambar 1: Heidi Yeh yang karirnya hancur karena berita bohong yang menjadi viral.

Kisah di atas membuktikan dahsyatnya pengaruh viral marketing -- baik yang positif maupun negatif -- sampai mampu mengubah pandangan dan persepsi pembacanya. Hal yang mirip terjadi pada beberapa hari terakhir ini sehubungan dengan I-Doser yang juga secara viral menyebar baik melalui BBM, WhatsApp atau postingan Facebook.

Tentunya sebagai orangtua tidak ada yang ingin anaknya menjadi korban narkoba digital tersebut, apalagi hoax tersebut menyertakan nama institusi pendidikan ternama dan BNN yang dikatakan merehabilitasi korban I-Doser berumur 9 sampai 65 tahun. Walaupun sebenarnya yang terjadi adalah sebaliknya dimana BNN justru menyatakan bahwa I-Doser tidak termasuk dalam kategori narkoba.

Provokatif

Jika diteliti lebih jauh pada hoax yang beredar, dimana dikatakan ada versi gratisan I-Doser yang jika diunduh dan didengarkan akan menyebabkan ketergantungan setelah didengarkan melalui earphone sekitar 10-15 menit. Informasi tersebut kurang akurat karena I-Doser hanya tersedia dalam bentuk aplikasi berbayar. Kemungkinan yang dimaksudkan adalah aplikasi I-Stoner yang sama sekali tidak disebutkan dalam hoax tersebut (lihat gambar 1). I-Stoner memiliki dua pilihan, I-Stoner Free dan I-Stoner premium.
Β 

Gambar 2: I-Stoner Free.

Kemungkinan yang dimaksudkan dalam hoax yang beredar adalah aplikasi I-Stoner Free yang memang bisa dipasang secara gratis. Sebenarnya yang meresahkan adalah teknik penamaan produk yang dipilih oleh pembuat apps dimana nama I-Stoner saja sudah membuat cemas pembacanya.

Kata 'stoned' identik dengan arti sedang melayang karena obat bius, khususnya marijuana. Kalau kata 'stoned' saja sudah membuat cemas para orang tua, coba lihat nama yang diberikan pada varian produk I-Stoner Free ini, tidak heran jika para orang tua yang waras langsung memberikan cap negatif (lihat gambar 3).

Current Drugs :
β€’ Cocaine
β€’ Ecstasy
β€’ Hash
β€’ Heroin
β€’ Marijuana
β€’ Multiple O
β€’ Nitrous
β€’ Viagra
β€’ Opium
β€’ Orgasm

Ibaratnya punya anak perempuan yang menanjak remaja berpacaran dengan pria dengan rambut punk warna warni yang hidungnya ditindik dan bertato di mana-mana. Sudah pasti akan langsung bertindak melindungi anak perempuannya tanpa melihat lebih jauh kepribadian si anak punk ini. Yang bisa-bisa ternyata mellow atau kalau dibentak orang langsung mewek.

Β 
Gambar 3: I-Stoner Free.

Sumber Berita

Salah satu hal yang mungkin membuat bingung adalah berita dari Wired.com dan link tersebut sangat sering digunakan sebagai tautan menyebarkan hoax I-Doser. Wired adalah situs berita yang cukup terpercaya dan berita yang dikutip tersebut terkesan memberikan legitimasi keberadaan narkoba digital ini. Berita tersebut adalah berita 5 tahun yang lalu di Wired pada tanggal 14 Juli 2010 pukul 16:14 yang 'seakan-akan' melegitimasi bahwa narkoba digital ini benar ada.

Faktanya adalah, Wired mengutip pemberitaan oleh Oklahoma News 9 yang memberitakan tentang fenomena I-Doser dan kekhawatiran orangtua yang diwawancarai terhadap I-Doser dimana dalam berita tersebut ada juru bicara dari Oklahoma Bureau and Narcotics and Dangerous Drugs yang memberikan komentarnya. Jadi muncul kesan seakan-akan hal ini di-endorse oleh Biro Narkotika Oklahoma. Padahal dalam berita tersebut, pernyataan yang diberikan oleh Biro Narkotika Oklahoma adalah:

β€œKids are going to flock to these sites just to see what it is about and it can lead them to other places,” Oklahoma Bureau of Narcotics and Dangerous Drugs spokesman Mark Woodward told News 9.

Anak-anak berlomba mengunjungi situs ini karena rasa ingin tahunya dan ini bisa mengarahkan mereka ke tempat lain. Dan sama sekali tidak ada pernyataan dari pihak bahwa I-Doser adalah narkoba digital. Yang dikhawatirkan oleh pihak berwenang adalah para pengedar narkoba justru memanfaatkan situs ini sebagai sarana untuk menyebarkan narkoba yang sebenarnya.

Justru yang perlu dihargai adalah pernyataan dari BNN Biro Narkotika Nasional jelas-jelas memberikan ketegasan dan ketenangan kepada para orang tua bahwa I-Doser tidak termasuk dalam kategori narkoba.

Efektivitas I-Doser

Terlepas dari penyebaran hoax di atas, Vaksincom tergelitik untuk melakukan analisa simpel berdasarkan data independen yang cukup terpercaya mengenai perusahaan I-Doser dan efektivitas produk ini apakah sesuai dengan klaimnya.

Teknik yang digunakan oleh I-Doser, I-Stoner dan produk lainnya adalah binaural wave dimana dua suara dengan gelombang yang berbeda diperdengarkan pada saat yang bersamaan pada telinga manusia (biasanya melalui earphone) dimana otak manusia akan memproses suara yang telah diatur sedemikian rupa sehingga mempengaruhi frekuensi gelombang otak.

Namun pengaruh yang diberikan oleh binaural wave ini lebih kepada hipnosis atau efek meditasi dan sangat berbeda dengan teler karena narkoba.

Pendiri i-Doser Nick Ashton yang mengatakan akan menjawab semua pertanyaan mengenai I-Doser langsung bungkam ketika ditanyakan apa latar belakangnya dan apakah ia memiliki gelar akademik yang mendukung dasar klaimnya.

Penggiat dan ahli binaural Carl Harvey www.binauralbeatsgeek.com setelah mencoba produk best seller I-Doser dengan nama Coccaine dan Marijuana mengatakan bahwa kedua binaural tersebut termasuk kedalam binaural dengan kualitas yang buruk.

Bisa saja jika ingin digunakan sebagai pengantar tidur siang. Tetapi, yang jelas tidak mungkin membawa anak anda menjadi teler seperti yang diakibatkan oleh narkoba dan digembar-gemborkan oleh I-Doser.

Justru seperti yang harus dikhawatirkan adalah I-Doser dan I-Stoner digunakan sebagai sarana untuk mengkomunikasikan narkoba kepada anak-anak anda. Baik melalui situs ataupun iklan di aplikasi.

Β 

*) Penulis, Alfons Tanujaya merupakan praktisi keamanan internet dari Vaksincom.

(ash/ash)





Hide Ads