Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Laporan dari Seoul
Smartfren Ingin Bangun Rumah Pintar
Laporan dari Seoul

Smartfren Ingin Bangun Rumah Pintar


Ardhi Suryadhi - detikInet

Arya (ash/inet)
Seoul -

Tak mau sekadar jadi operator telekomunikasi! Itulah target ambisius Smartfren. Di masa depan -- atau mungkin dalam waktu tak lama lagi -- operator yang merintis jalan dari layanan CDMA ini bakal menawarkan layanan rumah pintar.

Proyek ini merupakan bagian dari ekspansi layanan Internet of Things (IoT) yang sedang dirintis Smartfren. Jadi ketika semua sudah memiliki internet dengan koneksi cepat lantas pertanyaannya apa lagi yang bisa dilakukan? Nah, konsep IoT inilah yang bisa digarap operator sebagai layanan nilai tambah (value added services).

Arya Mada Prasaja, Data & IoT Devices Section Head Smartfren memberi bocoran, layanan rumah pintar yang jadi bayangan Smartfren adalah dengan mengembangkan home router, lengkap dengan gateway. "Jadi nanti ada home solution kita coba maju dengan berbagai perangkat sebagai penghubungnya, nanti kita akan ada survei dan studi dulu. Bisa kita coba IP home camera, jadi saat ada orang menekan bel rumah bisa ketahuan dari ponsel kita. Di luar juga sudah ada timbangan yang terkoneksi dan lampu bisa dimatikan via ponsel," terangnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut kata Mada, di Korea Selatan, operator LG U+ sudah mengembangkan sejumlah perangkat IoT. Seperti sensor kamera, sensor gerakan untuk di sistem keamanan di rumah. "Smartfren pun turut mempertimbangkan untuk melakukan hal itu. Siapa tahu kita bisa menghadirkan sensor banjir, tapi kita market riset dulu cocok atau enggak di Indonesia," lanjut Mada.

Menurut Direktur/Chief Brand Officer Smartfren Roberto Saputra, Smartfren akan segera merumuskan konsel IoT yang bakal ditawarkannya untuk memenuhi ekosistem 4G Indonesia tersebut. Sejumlah vendor pun dilaporkan sudah memasukkan proposal kerja samanya ke markas Smartfren terkait layanan IoT ini.

"Home Gateway akan kita rumuskan, pasti atau tidaknya nanti akan ada proses. Tak bisa langsung menunjuk satu vendor, ada beberapa vendor yang akan masuk menawarkan produknya. Kita lihat nanti sinkronisasi produk segala macam, lalu after sales dicek juga karena harus ada yang handle service center. Termasuk dari sisi quality control dan proposal pricing. Jadi nanti dari semua proposal vendor yang masuk ke Smartfren akan kita nilai," jelasnya.

Terkait IoT, Roberto menilai hal itu bisa jadi adalah suatu keniscayaan bagi operator telekomunikasi untuk ikut terjun di dalamnya alias tak bisa dihindarkan. Hal ini setidaknya bisa dilihat di Korea Selatan yang menjadi negara dengan 'koneksi internet dewa'.

Di Negeri Ginseng ini 4G tak lagi sekadar internet cepat. Pelan-pelan mereka sudah masuk ke era IoT, dimana dengan teknologi 4G semua solusi bisa dipaket menjadi satu.

"MiFi itu sebenarnya cuma salah satu enabler, tapi bayangannya sama seperti di Korea yang sudah seamless. Misalnya di rumah Anda berlangganan TV kabel, tapi nanti tayangan TV kabel itu bisa dilihat on the go (mobile). Terus saya mau tahu keadaan rumah seperti apa, dan ada sensor yang memberi tahu. Bisa pula soal health check (pengecekan kesehatan dari jarak jauh)".

"Bahkan mereka sudah ada yang ngomongin emotional care, dimana ada robot yang bisa berbicara. Jadi mungkin kalau kesepian ditemani robot yang bisa berbicara itu. Mereka (operator di Korea Selatan-red.) sudah memikirkan ke arah sana. Makanya ini adalah era Internet of Things (IoT), dimana koneksi antara machine to machine akan lebih dalam lagi. Jadi kita di sini untuk menjajaki hal tersebut," jelas Roberto, panjang lebar.

(ash/fyk)







Hide Ads