Menurut praktisi keamanan internet dari Vaksincom Alfons Tanujaya, konten pornografi yang wara-wiri di internet pada intinya ingin mencari keuntungan secara finansial. Baik bagi mereka si pemilik konten ataupun pihak ketiga yang jadi tim marketingnya.
"Hanya saja sekarang peredarannya sudah sedemikian cepat, dan menjadi liar," lanjutnya saat dihubungi detikINET, Senin (21/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malware 'gadis mabuk' diperkirakan dari Malaysia dan menyebar dengan masif di wall pengguna Facebook terutama dari Indonesia dan Malaysia.
Alfons menambahkan, modus ekonomi juga menjadi latar belakang penyebaran jebakan ini. Sebab saat diklik pengguna bakal disodori aplikasi browser. Sementara kalau diklik dari PC maka akan menuju link di Dropbox. Lalu link di Dropbox tersebut dialihkan ke situs palsu YouTube.
Nah, situs palsu ini akan meminta korban untuk menginstal sejenis codec jika ingin melihat video menggoda di awal jebakan. Padahal yang diinstal adalah malware dan bukan codec.
Lain lagi penyusupan konten porno di situs-situs penyedia informasi. Konten pornografi, lanjut Alfons, sering berkamuflase sebagai iklan, tetapi yang lebih parah adalah telah mengubah konten dari sebuah situs.
"Menampilkan konten saja sudah menyalahi aturan, apalagi sampai mengubah isi konten di suatu situs, Itu double salahnya," kata Alfons.
Pengubahan isi konten ini sendiri bahkan sempat dilaporkan terjadi oleh pengguna detikcom. Dimana ada artikel yang dilaporkan memuat konten porno. Namun detikcom telah memberikan klarifikasi soal isu tersebut pada link ini secara tegas.
(ash/fyk)