Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Menonton TV Berjam-jam Berisiko Penyumbatan Pembuluh Darah

Menonton TV Berjam-jam Berisiko Penyumbatan Pembuluh Darah


M. Alif Goenawan - detikInet

Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta - Apakah Anda termasuk orang yang memiliki hobi menonton televisi berjam-jam? Kalau begitu, mungkin ini saatnya untuk mengurangi hobi tersebut.

Sebab studi terbaru menyebut bahwa berlama-lama menonton televisi dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah di dalam paru-paru (pulmonary embolism). Penyumbatan tersebut biasanya terjadi ketika darah yang menggumpal menumpuk di dalam paru-paru.

Gejala yang paling umum terjadi pada penderita pulmonary embolism adalah merasakan nyeri di bagian dada hingga sesak nafas. Hal yang paling parah tentu bisa menimbulkan kematian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedikitnya penelitian yang dipimpin oleh Toru Shirakawa dari Universitas Osaka telah memonitor 86.000 relawan selama periode waktu 18 tahun. Dari hasil monitoring tersebut diketahui bahwa rata-rata relawan yang menonton televisi lebih dari lima jam dalam sehari dua kali berisiko terkena penyakit daripada relawan yang hanya menonton televisi dengan porsi rata-rata kurang dari 2,5 jam per hari.

"Dari penelitian ini kami ingin menunjukkan bahwa menonton televisi berkepanjangan berpotensi pada kematian," ujar Shirakawa dikutip detikINET dari Softpedia, Selasa (1/9/2015).

Tak hanya menonton televisi saja, menariknya para peneliti juga memaparkan bahwa bermain video game teralalu lama juga bisa menimbulkan gejala serupa.

Lalu bagaimana menonton televisi dapat memicu terjadinya penyakit mematikan itu? Sebagai catatan, pulmonary embolism terjadi karena penggumpalan darah terjadi salah satunya di kaki atau lengan. Penggumpalan tersebut mengikuti aliran darah sampai akhirnya menyumbat pembuluh darah.

Atas dasar inilah, Shirakawa menyebut kegiatan menonton televisi berlama-lama, dimana biasanya dilakukan dengan duduk dan tiduran bisa berisiko terjadi penggumpalan darah di kaki.

Oleh karenanya, Shirakawa menyarankan agar ketika menonton televisi setidaknya orang itu harus menggerakkan kakinya sejenak dengan berjalan. Terakhir, banyak minum air putih agar mencegah dehidrasi.

(ash/ash)






Hide Ads