"Saya mendaftarkan anak perempuan dan anak laki-laki saya ke acara ini karena ingin mereka merasakan pengalaman pertama mereka melakukan coding, dan mulai mengenal perusahaan seperti Microsoft secara umum," ujarnya.
Menurutnya, di masa depan segalanya akan lebih kompetitif. Itu sebabnya, anak-anak perlu mengetahui teknologi, salah satunya mengetahui bagaimana melakukan coding pada level tertentu, apapun bidang yang akan mereka jalani nantinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya terutama sangat bersemangat membawa putri saya. Saya sering merasa anak perempuan kurang mendapat dukungan dan pengenalan untuk menjalani minat atau karir di sektor teknologi. Saya ingin putri saya tahu ada pilihan untuk itu," sebutnya.
Imagine Cup Coding Camp adalah bagian dari rangkaian kegiatan Imagine Cup 2015, yang mengumpulkan anak-anak untuk belajar pemrograman. Anak-anak usia 7-12 tahun dari seluruh penjuru Seattle, tampak bersemangat mengikuti kegiatan yang berlangsung di Building 92, kampus Microsoft, Seattle, Redmond, Washington, Amerika Serikat.
Mendengar kata coding, kebanyakan orang akan langsung terpikir sederet kode yang membuat ruwet kepala. Jangan salah, di sini, anak-anak justru tampak gembira melakukan coding. Mereka belajar sambil bermain. Beberapa bahkan ada yang berjoget kegirangan mengikuti irama musik dalam ruangan setiap kali berhasil menyelesaikan tantangan.
Ada empat ruangan berkapasitas sekitar 100 orang untuk melangsungkan kegiatan ini. Setiap ruangan tampak seru dan ramai. Para finalis Imagine Cup 2015 dilibatkan untuk ikut menjadi pendamping kegiatan ini, termasuk tim Alix dari UNIKOM Bandung.
Lucunya, para finalis Imagine Cup 2015 seperti dikerjai oleh para bocah tersebut. Bagaimana tidak, mereka harus siap berlari ke sana ke mari di dalam ruangan, menjawab pertanyaan anak-anak atau memberikan hadiah bagi yang berhasil melakukan tugas.
Anak-anak diminta melakukan dua latihan dasar coding. Pertama, 'Color Customization', yakni mengajarkan dasar TouchDevelop dan bagaimana menavigasikan program.
Kedua, 'Pinata Breaker', tantangan untuk mengubah latar belakang, grafis dan menambahkan suara sesuai keinginan mereka untuk mengubah kecepatan Pinata.
Agar anak-anak semakin termotivasi, acara diselingi dengan tantangan berhadiah. Setiap anak yang sudah menyelesaikan tantangan, mereka boleh mengangkat tangan untuk meminta tiket hadiah.
Tiket ini hadiahnya macam-macam. Ada yang diberi developer board Raspberry Pi, gantungan kunci Minecraft, atau t-shirt keren dengan tanda tangan Jens Bergensten, Lead Developer Minecraft. Tak heran, anak-anak pun semakin antusias.
Bagi sebagian anak, ini adalah pertama kalinya mereka belajar coding, dan mereka merasa sangat keren bisa melakukannya. Banyak di antaranya yang tak bisa menahan senyum lebar sepanjang acara.
"Saya baru tahu kalau video games dibuat pakai coding. Keren! Saya mau ikutan coding camp seharian," kata bocah bernama Dylan dengan tatapan berbinar-binar.
Lebih menarik lagi, acara belajar coding gratis untuk anak-anak tersebut kemudian memecahkan rekor Guinness World Record. Imagine Coding Camp 2015 didapuk sebagai kegiatan dengan peserta belajar program komputer terbanyak dalam 8 jam. Benar-benar seru!
(rns/ash)