Senin, 06 Apr 2015 13:15 WIB

Spionase 'Mata Tuhan' yang Menakutkan

- detikInet
Jakarta -

Fast & Furious 7 menuai kesuksesan di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia. Selama beberapa hari lalu, bioskop Tanah Air dipadati antrean penonton yang ingin melihat aksi Van Diesel dan almarhum Paul Walker.

Film ini memang menyajikan tontonan memukau. Aksi kebut-kebutan ditambah adegan adu jotos membuat kita kerap menahan nafas karena ikut terbawa ketegangan suasana.

Namun selain dua hal tersebut, ada sesuatu yang sangat menarik sekaligus mengerikan yang dijumpai film Fast & Furious 7, yakni teknologi God’s Eye atau 'Mata Tuhan'.

'Mata Tuhan' dikisahkan sebagai program pengintaian digital sapu jagat. Dua perangkat yang bisa menjadi kaki tangannya adalah kamera dan mikrofon. Jadi setiap perangkat yang punya kedua fitur tersebut sudah barang tentu bisa menjadi alat sadap si pengguna 'Mata Tuhan'. Mulai dari CCTV, smartphone, dan banyak lagi.

Dalam film Fast & Furious 7, salah satu tokohnya mengatakan bila teknologi pengintai yang dimiliki pemerintah Amerika Serikat perlu waktu sampai 10 tahun untuk menemukan Osama bin Laden. Nah, dengan 'Mata Tuhan', Anda hanya perlu waktu dalam hitungan menit atau bahkan detik jika ingin mencari seseorang. Lantaran kemampuan tersebut akhirnya program ini jadi rebutan antara teroris dan agen pemerintah.

Kecanggihan teknologi 'Mata Tuhan' memang membuat penonton ternganga. Meski demikian di balik semua itu, teknologi ini jelas menakutkan jika benar-benar ada di dunia nyata.

Rasanya tidak ada lagi ruang privasi karena keberadaan kita dapat terlacak kapan dan di manapun. Semakin mengerikan lagi bila sampai teknologi ini disalahgunakan oleh orang atau pihak yang tidak bertanggung jawab.

Melihat semua itu, mungkin sebagian dari Anda akan bereaksi tidak perlu sebegitu takut karena hal tersebut hanya sekadar film. Tapi pada kenyataannya, 'Mata Tuhan' bisa benar-benar ada. Mungkin bukan sekarang, tapi di masa depan bisa saja tercipta program sejenis. Asumsi tersebut bukan tanpa dasar, tapi bila dirunut dari perkembangan teknologi pengintai sekarang ini.

NSA dan Indonesia

Tengah tahun kemarin, Persistent Surveillance System mengembangkan sebuah teknologi yang dapat mengumpulkan dan informasi secara realtime, sehingga memungkinkan melacak dengan me-rewind, zoom in dan mengikuti target tertentu.

Ross McNutt, Presiden of Persistent Surveillance System mengklaim teknologi tersebut layaknya versi live Google Earth. Persistent Surveillance System menempatkan kamera super beresolusi tinggi pada sebuah kapal. Pilot dapat menangkap 25m2 segmen bumi secara live secara berkelanjutan selama enam jam.

Terlebih bila kembali membuka lembar cerita-cerita aksi spionase National Security Agency (NSA) Amerika Serikat. Organisasi ini dianggap punya kemampuan digital paling mutakhir untuk urusan memata-matai. Mulai dari menyadap rekaman telepon warga sampai kepala negara telah dituduhkan ke NSA.

NSA diketahui juga sampai menggunakan pesawat Cessna yang terbang dari setidaknya lima bandara besar untuk mendukung aksi spionase mereka. Pesawat tersebut dibekali peralatan yang dibuat Boeing, yang menyerupai menara BTS yang digunakan banyak perusahaan telekomunikasi. Peralatan yang dinamakan 'dirtboxes' itu membuat ponsel memberikan data unik registrasinya. Alhasil, alat ini dapat mengumpulkan informasi dari puluhan ribu ponsel dalam sekali penerbangan.

Indonesia pun tak luput menjadi target mata-mata. Mantan agen NSA Edward Snowden membeberkan dokumen mengenai aksi mata-mata Selandia Baru terhadap berbagai media komunikasi di Indonesia. Pihak Selandia Baru bekerja sama dengan Direktorat Sinyal Australia dituding telah memata-matai Indonesia.

Teknologi yang digunakan memang tidak jelas seperti apa. Namun mereka mampu memantau setiap panggilan telepon dan email, dan semua data tersebut langsung masuk ke database, dan terkoneksi ke databes NSA. Materi yang didapat dari Indonesia lalu disebar oleh keamanan Selandia Baru ke negara-negara sekutunya, seperti NSA, dan agensi di Australia, Inggris dan Kanada. Mereka disebut jaringan mata-mata 'Five Eyes'.

Snowden juga mengungkapkan Indonesia turut dijadikan target penyadapan lewat kartu SIM. Tak hanya disadap oleh NSA dari Amerika Serikat, Government Communication Headquarter (GCHQ) dari Inggris juga ikut berperan. Kedua badan intelijen ini menguping seluruh pembicaraan sekaligus memelototi isi SMS, email dan pesan lainnya melalui chip yang ada di kartu seluler tersebut.

Kasus lain beberapa bulan lalu dimana warga Australia diperingatkan tentang adanya peretas yang mendapatkan akses ke kamera Webcam di rumah, dan bahkan kamera yang digunakan untuk memantau bayi tidur.

Sebuah situs Rusia telah menemukan gambar-gambar yang bisa diunduh langsung dari ribuan kamera Webcam pribadi di seluruh dunia, termasuk dari rumah dan sejumlah perusahaan di Australia. Situs ini terdaftar di wilayah lepas pantai Australia, yakni Kepulauan Cocos.

Melihat kasus-kasuk di atas bukan tidak mungkin ke depannya para hacker dapat memanfaatkan kamera dan mikrofon yang ada smartphone untuk memantau gerak-gerik semua orang. Dan 'Mata Tuhan' pun akhirnya bangkit dari hanya sekadar imajinasi dalam film menjadi sebuah ancaman yang nyata.

(ash/ash)