Seperti yang dialami Emily Bryce-Perkins. Wanita 29 tahun yang berprofesi sebagai penulis ini mengaku menggunakan Facebook, Instagram dan Twitter setidaknya enam jam sehari.
"Saya bergabung di Facebook pada 2007 ketika masih sekolah. Mulanya saya tidak terpikir bahwa jejaring sosial akan sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari," sebut Emily seperti dilansir Herald Sun, Selasa (20/1/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah suasana sumpek tersebut, Emily iseng membuat akun Twitter dan langsung jatuh cinta dengan layanan mikroblogging itu. Dia menyukainya karena dari Twitter dia mengetahui hal-hal terbaru secara real time.
"Ditambah lagi, jika Anda menggunakannya dengan pintar, Twitter bisa menjadi platform yang berguna baik secara sosial maupun profesional," sebutnya.
Dari Twitter juga, Emily bisa mengobrol dengan sejumlah editor majalah dan kolumnis koran. Orang-orang yang selama ini tidak terpikir akan berhubungan dengannya, dan bisa berbagi cerita berkenaan dengan pekerjaannya. Follower-nya pun terus bertambah hingga 3.000 orang.
"Suami saya tidak bisa mengerti. Ketika saya pulang bekerja dia akan menanyai soal orang-orang mengobrol dengan saya di Twitter. Lama-lama saya tidak tahan. Media sosial juga yang akhirnya membuat saya berani membuat keputusan bercerai," ujarnya.
Bagi Emily, Twitter membuka matanya melihat dunia luar dan memberikannya kepercayaan diri untuk menjalani hidup tanpa suami dan menjadi penulis. Twitter membuatnya menemukan identitas yang utuh.
Kini lima tahun berlalu, media sosial masih menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan Emily. Hampir di semua kegiatan, Emily akan selalu mengecek akun media sosialnya. Ketika dia memasak, bahkan sampai ke toilet, ponselnya tidak pernah lepas dari genggaman.
"Hal pertama yang saya lakukan ketika bangun tidur, saya mengecek email, Twitter, Facebook dan Instagram di iPhone serta membalas semua pesan masuk atau WhatsApp," kata Emily.
Menurutnya, berinteraksi di media sosial saat ini, baik untuk pekerjaan maupun kehidupan personal, sudah menjadi kebutuhan. Emily malah merasa tidak mungkin meninggalkan sehari saja tanpa bermedia sosial, dan dia memang tidak pernah ingin mencoba melakukannya.
(rns/ash)