Sebab, menurut Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia Sammy Pangerapan, penghitungan oleh Akamai masih misterius.
"Ini saya sebetulnya tidak pernah mengerti cara menghitung, ga pernah di-share bagaimana. Jadi masih bisa diperdebatkan," kata Sammy, saat dihubungi detikINET, Senin (12/1/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan sebetulnya sudah lebih dari itu. Karena kebanyakan pemain fixed broadband, seperti Speedy, Biznet dan First Media sudah bisa kasih lebih dari itu," sebutnya.
Sebetulnya, di Indonesia lebih banyak pengguna seluler ketimbang fixed. Menurut Sammy, komposisinya 65% untuk seluler dan sisanya baru pengguna internet tetap.
Masalahnya, jumlah tersebut tidaklah ideal. Menurutnya, jumlah pengguna internet tetap dan seluler harusnya setidaknya sama.
"Ini belum lagi masalah di konektivitas di jaringan seluler di Indonesia, yang rata-rata hanya 512 Kbps. Padahal itu bisa lebih cepat lagi, kalau ada strategi yang jelas dari pemerintah," tandasnya.
Secara keseluruhan, Akamai memang merepresentasikan kondisi kecepatan internet di Indonesia, namun di segmen fixed broadband, bila digabungkan dengan sΓ©luler tak seperti itu.
Akamai menyebut pada kuartal ketiga 2014 kecepatan rata-rata internet di Indonesia mencapai 3,7 Mbps. Angka itu meningkat 149% ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya dan 49% lebih baik ketimbang kuartal kedua 2014.
Indonesia disebut-sebut sudah mendekati China dan meninggalkan Vietnam, Filipina, dan India. Tetapi, masih jauh dari Korea Selatan yang memiliki kecepatan rata-rata 25,3 Mbps, diikuti oleh Hong Kong dan Jepang.
(tyo/ash)