Pantauan detiksport pada Kamis (11/12/2014) pukul 08.30 WIB, #BekukanPSSI menjadi trending topic nomor empat di Indonesia.
Terkait hal ini, pada acara talkshow 'Mata Najwa' yang ditayangkan Metro TV tadi malam (10/12), yang mengambil tema 'Dagelan Bola', Menpora Imam Nahrawi diminta suporter untuk turun tangan membereskan sepakbola Indonesia, karena PSSI dianggap sudah tidak mampu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak kaget dengan sepakbola gajah PSIS vs PSS, karena sejak sebelum saya jadi pemain, sampai saya jadi pemain, sepakbola Indonesia ya seperti ini," ucap Rochi.
Sementara itu Ketua Komisi Disiplin PSSI Hinca Panjaitan mengatakan bahwa sepakbola bukan milik masyarakat melainkan FIFA.
"Pertama, harus kita dudukkan dulu regulasi sepakbola. Tanpa kita bisa dudukkan dengan tepat, maka yang ada prasangka. Dalam sepakbola kita punya statuta, regulasi, kode disipin, kode fair play, kode etik, dan macam-macam. Untuk apa itu semua? Untuk menjaga integritas sepakbola. Sepakbola bukan milik masyarakat, (tapi) milik FIFA, yang dimainkan oleh masyarakat di seluruh dunia. Jangan salah ya. Oleh karena itu regulasinya dibuat. Sudah 100 tahun lebih sepakbola dinikmati sedemikian rupa," tutur Hinca.
Ketika pembawa acara menanyakan kepada Menpora, milik siapakah sepakbola itu, Imam Nahrawi menjawab: "milik bangsa Indonesia". Jawaban itu mendapat tepuk tangan dari penonton di studion.
Terkait skandal sepakbola gajah, Hinca mengatakan pihaknya sudah mendapatkan 6 aktor intelektual yang bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari Malaysia. Namun, saat ditanya kapan akan diungkap, dia mengatakan, "tunggu, sabar, penyelidikan masih berlangsung."
Di akhir sesi, pembawa acara memberi pernyataan penutup, dan diunggah pula melalui akun Twitternya (@matanajwa):
Atas nama statuta FIFA, PSSI tak pernah mau terbuka.
Dengan dalih intervensi itu dilarang, PSSI terus saja membangkang.
Tidak ada pembaharuan yang signifikan, persoalan justru selalu terulang.
Kerusuhan, kematian, pengaturan, tunggakan, hingga kekalahan, sudah menjadi kebiasaan.
Liga Indonesia dibuat gegap gempita, untuk menutupi persoalan yang sebenarnya.
Timnas dijadikan tontonan seperti sirkus, tapi akuntabilitas sama sekali tak diurus.
Politisasi masih terus terjadi, seakan timnas milik bosnya sendiri.
PSSI sudah menjadi rezim yang tertutup, tak peduli prestasi semakin meredup.
Sepakbola adalah olahraga rakyat, jangan segelintir saja yang merasakan nikmat.
Jika masih bebal dengan desakan perubahan, negara tak bisa diam berpangku tangan.
Karena negara memang punya kewenangan, sebab kita sudah rindu kejujuran, dan kemenangan.
(a2s/ash)