Menurut Azmir Muthalib dari badan pengembangan multimedia Malaysia MDeC, Malaysia perlu perjuangan selama 10 tahun untuk mengembangkan animasi lokalnya. Sehingga akhirnya mulai berbicara banyak di dunia, termasuk popularitas yang diraih Upin dan Ipin sekarang ini.
Perjuangan tersebut mencakup berbagai hal. Mulai dari sumber daya manusia, infrastruktur hingga teknologi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Malaysia sudah melakukannya 10 tahun dan itu pun masih belum cukup. Jadi masih harus kita develop lebih jauh lagi," lanjutnya saat berbicara di salah satu sesi talkshow Baros International Animation Festival (BIAF) 2014 di Cimahi.
Dalam kesempatan ini, Azmir berbagi cerita bagaimana MDeC sebagai badan swasta bisa menggawangi kebijaksanaan pemerintah dalam pengembangan industri animasi di negeri Jiran tersebut.
Selain soal pengembangan SDM, ada enam aspek lain yang menurutnya tak boleh disepelekan. Pertama adalah kebijakan yang akan banyak membantu ketika berdiskusi dengan organisasi lain baik pemerintahan maupun sesama swasta.
Kedua adalah masalah pendanaan. Meminta bantuan pemerintah memang sulit. Untuk itu menurutnya, pelaku animasi harus pandai memikirkan strategi 'minta duit' ke pemerintah salah satunya dengan mengadakan acara-acara seperti BIAF, membuat inkubator. Dengan begitu pemerintah baru akan tertarik.
Ketiga, memikirkan bagaimana mencapai pasar lebih luas. Untuk itu menurutnya perlu kerjasama dengan instansi terkait termasuk pemerintahan. Jadi, kita tak hanya akan bisa menguasai pasar dalam negeri namun juga mengembangkan pasar ke luar negeri.
"Tak kalah penting adalah proteksi IP atau hak cipta. Masih sering di antara kita masih berpikir ini kurang penting. Padahal bagaimana proteksi IP itu bisa sangat penting hubungannya dengan pemerintah dan pasar yang lebih luas lagi," kata Azmir.
Lebih lanjut, Azmir juga mengatakan pengembangan SDM menjadi hal menantang dalam pendidikan keterampilan. Semua harus dilibatkan, bergabung dan mengobrol sama-sama untuk memikirkan bagaimana pengetahuan animasi bisa ditingkatkan.
"Terakhir, memahami bisnis. Memikirkan bagaimana sebuah karya yang kita bikin bisa dikomersialkan. Jangan sampai kita hanya jago bikin tapi tidak bisa menjualnya," tutupnya.
Nah, hal ini juga yang mampu dicapai oleh film Upin dan Ipin. Film yang bercerita tentang anak kembar asal Malaysia ini mampu dikemas sedemikian rupa sehingga bisa diterima pasar, termasuk di Indonesia.
(rns/ash)