Saat itu, Rudiantara bersama netizen menggelar video conference untuk membahas jalan tengah pemblokiran Vimeo di Indonesia. Karena seperti diketahui, Vimeo termasuk salah satu yang diblokir saat Menkominfo dijabat Tifatul Sembiring.
"Jadi Vimeo itu sudah dikirim surat sejak tahun 2009. Saya lalu minta surat-suratnya dari tahun tersebut sampai sekarang. Ketika saya tanya ke internal, katanya tidak dibalas. Saya tanya lagi, lalu setelah itu bagaimana? Masa dibiarkan begitu saja? Ini kan harus tetap di-follow up. Ya, sudah langsung saja saya minta nomor yang bisa dihubungi," kisah Rudiantara, saat mengunjungi kantor Detikcom, Rabu (19/11/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertama kali saya telepon saya bilang 'Hai I am Rudiantara newly appointed minister of technology and information Indonesia, i would like to speak about Vimeo..terkait masalah pemblokiran," tambahnya.
Rudiantara melanjutkan, telepon pertama tak mendapat balasan, sehingga dia pun menelpon untuk kedua kalinya. Nah, baru setelah panggilan kedua itu Vimeo membalas responnya.
Respons setelah dua hari kontak langsung dengan Rudiantara itu akhirnya memunculkan kesepakatan untuk berkomunikasi dengan CEO Vimeo Kerry Trainor melalui video conference.
"Makanya setelah itu saya ajak netizen untuk ikut berdiskusi. Agar mereka mau membantu kita dari sisi teknisnya," ujarnya lagi.
Dalam meeting virtual itu Rudiantara dan perwakilan netizen menjelaskan aturan main di ranah internet Indonesia. Termasuk soal alasan pemerintah menolak peredaran konten porno di Vimeo.
"Saya kejar terus, saya bilang konten Vimeo tak sesuai dengan kultur dan budaya kita karena ada konten pornografinya. Walaupun saya tak melarang Vimeo masuk karena layanan ini bagus bagi industri kreatif kita," ucapnya.
"Dan akhirnya dalam video conference tersebut kita memberikan sejumlah rekomendasi teknis soal filtering di Vimeo," tandasnya.
(tyo/ash)