Suporter kerapkali dianggap sebagai pemain ke-12 bagi tim sepakbola. Sebab kehadiran dan dukungan para suporter mampu membakar semangat pemain di atas lapangan.
Pun demikian, pemain ke-12 tak melulu suporter. Ada pihak lain yang dianggap bakal atau mungkin sudah menjadi pemain ke-12 tim sepakbola.
Siapa dia? Tenang, itu bukan wasit, melainkan teknologi! Ya, sekat yang memisahkan teknologi dan olahraga kini sudah semakin tipis. Kedua hal ini sudah semakin melengkapi sehingga mampu membuat suguhan yang lebih menarik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teknologi SAP yang dipakai timnas sepakbola Jerman salah satunya adalah aplikasi Match Insight. Asosiasi Sepakbola Jerman (Deutscher Fussball-Bund/DFB) ternyata sudah berkolaborasi dengan SAP beberapa tahun belakangan untuk mengembangkan aplikasi data analitik ini.
Rekam jejak pemain Jerman yang diboyong ke Brasil diinput secara lengkap ke database SAP Match Insight. Mulai dari banyaknya passing, daya jelajah, sampai ke mana saja pergerakan si pemain.
Tentunya, data-data tersebut tak sekadar jadi pajangan, melainkan untuk dianalisis sehingga bisa menghasilkan output yang dibutuhkan oleh pelatih Jerman Joachim Loew.
Aplikasi ini juga dapat 'memata-matai' statistik data dari tim lawan, membuat simulasi, serta mengatur menu latihan bagi setiap pemain berdasarkan kondisi fisiknya.
Jadi semua data yang disajikan sudah terstruktur dan merupakan hasil analisa. Sehingga bisa dimaklumi pemain sekaliber Lionel Messi tak mampu mempertunjukkan daya magisnya kala berhadapan dengan Jerman di partai puncak Piala Dunia 2014.
"Siapa percaya SAP menjadi pemain ke 12? Saya hanya becanda," kelakar βGroup Vice President SAP Global Sponsorship, Chris Burtonβ, di kantor SAP Asia Pasifik dan Jepang, Mapletree Business City, βPasing Panjang Road, Singapura.
Burton menyatakan, SAP telah menginvestasikan banyak hal untuk ranah hiburan olahraga (Sports and Entertainment). Keampuhan teknologi pengolah data SAP berbuah pada apiknya penampilan Jerman diada Piala Dunia 2014.
"Jika tidak mengikuti perkembangan teknologi, maka Anda akan tertinggal di belakang," ujar Burton.
Ia menjelaskanβ SAP Match Insights Solution dibangun di atas SAP HANA (High Performance Analβytical Appliance) dalam cloud dan secara tampilan pun gak njelimet.
β
"Misalnya Thomas MΓΌller bermain bagus atau buruk, ini bisa diukur. Data ini nantinya berguna bagi pelatih," imbuhnya.
Dengan perangkat ini, tim pelatih dan para pemain bisa menganalisa data yang luar biasa banyaknya secara real time dan dengan video yang terkorespondensi.
"Seketika setelah Jerman memenangi Piala Dunia 2014, telepon (SAP) langsung berbunyi terus," umbar Burton.ββ
Bukan hanya untuk menyukseskan performa di lapangan yang ditangani SAP, upaya mengikat fans juga dilakukan. Hubungan tim sepakbola dengan fans perlu dijaga.β Semua pengelolaan kebutuhan untuk fans hingga pemain, pelatih, hingga untuk media semuanya berada dalam bentuk big data.
"βBayern Munchen punya jutaan fans di seluruh dunia. Mereka harus menjangkau semua fansnya, caranya adalah dengan teknologi," tutur Burton.
Die Rotten memang telah menjalin kerjasama dengan SAP sejak Agustus 2014. Selain itu, klub Hoffenheim juga memakai teknologi SAP, karena memang tim ini dibekingi secara finansial oleh salah satu pendiri SAP, Dietmar Hopp.
(/)