Sedih melihat kemunduran, padahal di pemilu-pemilu sebelumnya, teman-teman sudah jungkir balik mencoba memulai sistem IT. Dan kali ini hanya disingkirkan.
Namun, setelah pengumuman pemenang kemarin, saya beranggapan inilah pemilu dengan sistem IT terbaik!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulai dari yang sederhana, setiap warga bisa melihat apakah C1 dari TPS-nya yang sampai di KPU, sama dengan C1 hasil perhitungan di TPS masing-masing. Semua warga bisa mengkonfirmasi tidak ada kecurangan penulisan C1 ataupun manipulasi saat pemindaiannya.
Tidak hanya itu, struktur web KPU, dan juga link scan C1, memungkinkan publik untuk meng-crawling dan membuat aplikasi untuk ikut melakukan perbandingan perhitungan secara mandiri.
Di sinilah muncul kawalpemilu.org (dipelopori oleh Ainun Najib) dan juga http://kawal-suara.appspot.com/ (dipelopori oleh Reza Lesmana).
Terlepas apakah pembuat kedua aplikasi tersebut adalah pendukung salah satu capres, tapi kedua sistem yang terpisah itu memanfaatkan keterbukaan yang ditawarkan KPU, dengan dukungan ribuan relawan, untuk ikut menghitung dengan sebenarnya (real count).
Salah besar kalau kita beranggapan bahwa dua sistem ini mencoba menyetir hasil akhir di KPU. Jangan samakan dengan sebuah real count yang katanya sudah selesai tanggal 9 Juli dengan 270.000 TPS.
Tidak hanya hasilnya jauh dari benar, tetapi data real count abal-abal ini hanya disampaikan lisan, tanpa data yang dibuka untuk dianalisa dan dikonfirmasi oleh publik.
Real count mandiri dari kawal pemilu dan kawal suara, memungkinkan adanya partisipasi masa secara terbuka. Cara menampilkannya pun sangat transparan, dan bisa dicek oleh publik kebenarannya, hingga level TPS (C1).
Dengan kalkulator manual pun kita bisa lakukan random cek perhitungannya, sambil memelototi gambar scanning C1 yang diambil langsung dari server KPU.
Memang tidak akurat 100%. Karena hasil scan C1 pun tidak sempurna. Ada yang terbalik scan-nya, ada yang tidak terbaca, ada yang tidak lengkap, hingga ada yang disusulkan karena adanya pemilihan ulang di beberapa TPS. Tapi, derajat ketidakakuratannya sangat minor.
Reza Lesmana, yang menggagas sistem kawal suara, sambil mengawal perhitungan suara KPU, berkeinginan untuk melakukan uji coba sosial. Bahwa perhitungan macam ini bisa dilakukan secara terbuka.
Artinya, siapapun boleh ikut melakukan entri data, tanpa disaring sama sekali, tanpa dibatasi, bahkan tanpa login. Reza secara cerdas merancang sistem verifikasi mandiri, untuk mendeteksi adanya entri yang curang,
"Saya percaya bahwa lebih banyak orang jujur yang ikut mengisi daripada yang mengacau" ujarnya.
Dan hal ini terbukti, hingga pengisian akhir (60%), data kawal suara ditampilkan apa adanya, tidak ada interaksi admin untuk melakukan koreksi pengisian secara manual.
Dari total 8.700 IP publik yang ikut berpartisipasi, ada 5,74% entri yang tidak valid. Namun terkoreksi secara otomatis dengan entri oleh pengisi lainnya, ataupun dengan sistem verifikasi.
Kedua sistem mandiri ini sangat cocok dengan suasana IT di Indonesia. Dukungan relawan membuktikan sistem ini didukung dan diapresiasi baik oleh masyarakat.
Tentu ucapan selamat dan apresiasi yang setingginya untuk para penggagas dan implementor kedua sistem hitung mandiri ini.
Juga untuk para relawan yang banting tulang ikut menghitung. Tapi, di luar semua itu, sistem ini tak akan bisa jalan, kalau KPU tidak membuka datanya dengan bebas dan transparan.
Karena itu, izinkan saya menganggap -- paling tidak untuk diri saya sendiri -- penggunaan IT pada Pilpres 2014 ini adalah yang paling istimewa kalau dibandingkan dengan acara serupa sebelumnya.
Bukan karena infrastruktur dan aplikasi yang luar biasa, namun karena sistemnya yang transparan dan terbuka, membuat masyarakat bisa ikut berpartisipasi mengawal. Partisipasi, ini yang membuatnya istimewa.
*) Penulis, Valens Riyadi merupakan praktisi IT.
(ash/ash)