Bukan Omong Kosong! Cyberbullying Berujung Bunuh Diri

Kontroversi Ask.fm

Bukan Omong Kosong! Cyberbullying Berujung Bunuh Diri

- detikInet
Senin, 30 Jun 2014 10:03 WIB
Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta - Ask.fm adalah salah satu jejaring sosial terbesar di internet. Resmi diperkenalkan pada tahun 2010, situs ini telah mempunyai 120 juta pengguna terdaftar di seluruh dunia dan 15 juta di antaranya berada di Amerika Serikat (AS).

Sayangnya Ask.fm belakangan menjadi buah bibir bukan lantaran jumlah anggotanya yang sudah bejibun, namun karena kritikan yang menyebutnya sebagai inkubator untuk cyberbullying dan bahkan bunuh diri.

Ask.fm sebetulnya bukanlah jejaring sosial yang cocok untuk bernarsis ria seperti Facebook, Instagram atau bahkan Path sekalipun. Karena konsep Ask.fm adalah lebih 'Anda bertanya kami Menjawab', sesuai dengan namanya.

Pengguna Ask.fm yang terdaftar memang dapat melihat jumlah anggota yang mem-follow mereka. Namun, pengguna tidak bisa melihat identitas diri siapa yang sedang mengikuti mereka.

Follower mereka inilah yang dapat mengajukan pertanyaan ke anggota Ask.fm yang diikutinya. Pengikut dapat memberikan pertanyaan tanpa harus memperlihatkan siapa mereka alias annoymous.

Dan inilah alasan kenapa Ask.fm dikritik sebagai tempat kebangkitan akun anonim karena memberikan ruang yang lebih luas yang pada akhirnya menyebabkan beberapa penggunanya mengalami kasus mengerikan.

Wajar kritikan itu menyerang mereka. Pasalnya, sejak tahun 2012, dalam sebuah laporan media tercatat sudah ada 16 remaja yang tewas akibat kekerasan verbal di situs Ask.fm.

Clara Pugsley adalah salah satu remaja yang menjadi korban akibat penggunaan Ask.fm yang melewati batas. Dia ditemukan tak bernyawa di sebuah hutan di Killargue, Dormahair, setelah menghadiri pesta yang diadakan oleh tetangganya.

Awalnya dia diduga dibunuh oleh temannya. Namun belakangan diketahui, Ciara tewas karena bunuh diri akibat ejekan temannya di sekolah dan di jejaring sosial.

Sejak menggunakan Ask.fm, semakin banyak permintaan atau tepatnya pertanyaan yang menyudutkannya yang berujung pada bullying. Inilah yang membuat Ask.fm dituding punya peran besar pada kasus Ciara.

Hal serupa juga dialami oleh Erin Gallagher. Gadis cantik asal Irlandia ini menghabisi hidupnya setelah seminggu lebih di-bully di situs Ask.fm. Kebanyakan dari Troll (sebutan yang membully) menghina berat badannya.

Ancaman bunuh diri tersebut disampaikan untuk para pem-bully dirinya, terutama seseorang yang tidak disebutkan namanya. Pada akhirnya ancaman tersebut menjadi kenyataan.

Erin ditemukan meninggal di rumahnya, hanya enam minggu berselang setelah kasus Ciara menjadi pembicaraan publik.

Dalam sebuah survei, situs ini memang sangat populer di kalangan remaja. di mana 42% di antaranya merupakan remaja berusia di bawah 17 tahun. Kelabilan mereka, karena masa pubertas, menjadi salah satu alasan kenapa Ask.fm dituding menjadi biang keladi.

(tyo/ash)