Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Kalah dari Google, Apa Salah Apple?

Kalah dari Google, Apa Salah Apple?


- detikInet

Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta - Apple, penggila teknologi mana yang tak mengenal perusahaan yang diwariskan oleh Steve Jobs ini. Apple identik dengan gadget premium dan brand paling bergengsi. Namun untuk tahun ini, gelar tersebut sukses dipatahkan Google.

Pertanyaan pun muncul, apa yang bikin Apple kalah dari Google. Dari segi kualitas produk tentunya Apple masih berada di kasta tertinggi. Begitu juga dengan brand image, Apple juga masih berada di level teratas.

Apakah ketiadaan Steve Jobs turut melunturkan citra Apple sebagai pemilik brand paling mahal di dunia?

Berikut penjabarannya seperti dilansir FinancesOnline, Jumat (30/5/2014):

Ilustrasi (gettyimages)

1. Google Buka-bukaan, Apple Misterius

Sebagai perusahaan inventor, Google dan Apple tentunya sangat mengandalkan tim research & development (R&D) mereka untuk menciptakan suatu inovasi.

Google dikenal punya tempata rahasia dengan nama lab X yang berada di bawah komando pendiri Google, Sergey Brin. Keberadaan tempat ini masih tak pernah diungkap secara gamblang, hanya disebutkan bahwa inovasi canggih Google selalu digodok dari ruang rahasia ini.Β 

Apple pun tak kalah. Perusahaan asal Cuppertino tersebut terkenal punya engineer kelas wahid. Selain dari sisi teknis, kehebatan juga diakui dari desainnya yang elegan. Master desain Apple Sir Jhonny Ive berada di balik pesona gadget-gadget si produsen iPhone dan iPad tersebut.

Hanya saja, Google dan Apple punya gaya berbeda dalam memperkenalkan produknya ke publik. Apple dikenal sangat pelit informasi terhadap gadget dan layanan anyarnya.

Konsumen dipaksa menerka-nerka tentang apa yang tengah dibikin Apple. Sampai akhirnya ekspektasi pengguna kelewat tinggi.Β Β Β 

Sementara Google menganut gaya sebaliknya. Oke, Google juga masih kerap berahasia soal apa yang tengah mereka kerjakan di Lab X. Tetapi tak sepelit Apple.

Google seringkali melibatkan pengguna dan komunitasnya untuk mengembangkan suatu produk. Maka dari itu, sering kali kita mendengar versi beta dari produk Google.

Ini sengaja dilakukan si perusahaan mesin pencari itu untuk mendapatkan feedback sekaligus menyempurnakan produknya. Manfaat lain adalah, sangat jitu untuk memancing crowdsourcing.

Singkatnya, engineer Apple selalu menghabiskan waktu berbulan-bulan di laboratorium untuk menciptakan produk sempurna. Sementara engineer Google malah menganut gaya santai, dengan kongkow di cocktail party sampai setengah mabuk untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan proyek tergressnya.

1. Google Buka-bukaan, Apple Misterius

Sebagai perusahaan inventor, Google dan Apple tentunya sangat mengandalkan tim research & development (R&D) mereka untuk menciptakan suatu inovasi.

Google dikenal punya tempata rahasia dengan nama lab X yang berada di bawah komando pendiri Google, Sergey Brin. Keberadaan tempat ini masih tak pernah diungkap secara gamblang, hanya disebutkan bahwa inovasi canggih Google selalu digodok dari ruang rahasia ini.Β 

Apple pun tak kalah. Perusahaan asal Cuppertino tersebut terkenal punya engineer kelas wahid. Selain dari sisi teknis, kehebatan juga diakui dari desainnya yang elegan. Master desain Apple Sir Jhonny Ive berada di balik pesona gadget-gadget si produsen iPhone dan iPad tersebut.

Hanya saja, Google dan Apple punya gaya berbeda dalam memperkenalkan produknya ke publik. Apple dikenal sangat pelit informasi terhadap gadget dan layanan anyarnya.

Konsumen dipaksa menerka-nerka tentang apa yang tengah dibikin Apple. Sampai akhirnya ekspektasi pengguna kelewat tinggi.Β Β Β 

Sementara Google menganut gaya sebaliknya. Oke, Google juga masih kerap berahasia soal apa yang tengah mereka kerjakan di Lab X. Tetapi tak sepelit Apple.

Google seringkali melibatkan pengguna dan komunitasnya untuk mengembangkan suatu produk. Maka dari itu, sering kali kita mendengar versi beta dari produk Google.

Ini sengaja dilakukan si perusahaan mesin pencari itu untuk mendapatkan feedback sekaligus menyempurnakan produknya. Manfaat lain adalah, sangat jitu untuk memancing crowdsourcing.

Singkatnya, engineer Apple selalu menghabiskan waktu berbulan-bulan di laboratorium untuk menciptakan produk sempurna. Sementara engineer Google malah menganut gaya santai, dengan kongkow di cocktail party sampai setengah mabuk untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan proyek tergressnya.

2. Google Lebih 'Kaya'

Dulu, Google identik sebagai mesin pencari di internet. Namun kini, bisa dibilang, perusahaan yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin itu adalah penguasa internet.

Bisnis Google sudah berekspansi ke berbagai lini. Mulai dari peta digital, layanan cloud, jejaring sosial, perangkat genggam sampai wearable gadget.

Anda pasti sudah familiar dengan Android, Google Glass, konsep Internet of Things, Google Maps, serta mobil pintar Google. Dan ini masih belum selesai, pada event Google I/O Conference yang bakal berlangsung pada bulan Juni ini, inovasi Google bakal bertambah.
Β Β Β Β 
Bagaimana dengan Apple? Mereka memang masih berjaya di bisnis smartphone dan PC. Namun produk baru Apple masih bisa dihitung oleh jari, terutama di bisnis ponsel.

Menurut FinancesOnline, Apple lambat dalam berinovasi sehingga produk yang dirilis ke pasaran terbilang sedikit.

"Memang, tahun lalu Apple sudah meluncurkan iPhone 5S dan 5C, tetapi arena smartphone mulai membosankan. Apple butuh sesuatu yang segar," sebut FinancesOnline.

2. Google Lebih 'Kaya'

Dulu, Google identik sebagai mesin pencari di internet. Namun kini, bisa dibilang, perusahaan yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin itu adalah penguasa internet.

Bisnis Google sudah berekspansi ke berbagai lini. Mulai dari peta digital, layanan cloud, jejaring sosial, perangkat genggam sampai wearable gadget.

Anda pasti sudah familiar dengan Android, Google Glass, konsep Internet of Things, Google Maps, serta mobil pintar Google. Dan ini masih belum selesai, pada event Google I/O Conference yang bakal berlangsung pada bulan Juni ini, inovasi Google bakal bertambah.
Β Β Β Β 
Bagaimana dengan Apple? Mereka memang masih berjaya di bisnis smartphone dan PC. Namun produk baru Apple masih bisa dihitung oleh jari, terutama di bisnis ponsel.

Menurut FinancesOnline, Apple lambat dalam berinovasi sehingga produk yang dirilis ke pasaran terbilang sedikit.

"Memang, tahun lalu Apple sudah meluncurkan iPhone 5S dan 5C, tetapi arena smartphone mulai membosankan. Apple butuh sesuatu yang segar," sebut FinancesOnline.

3. Faktor Steve Jobs

Inilah yang paling ditakutkan pasca Steve Jobs tiada. Apple sulit bangkit dan masih berada di bayang-bayang sang pendiri yang telah menjadi legenda di industri teknologi tersebut.

Sebagai penerus Jobs, CEO Apple Tim Cook dianggap belum mampu untuk menjadi suatu inventor, seseorang yang punya ide-ide gila dan menyajikannya dalam suatu produk yang membuat orang-orang terperangah.

Ya memang, Jobs selalu dikenal sebagai orang yang ambisius dan punya ide yang out of the box. Awalnya, sikap Jobs memang kerap dipandang sebelah mata, namun produk anti mainstream hasil dari idenya lama kelamaan justru jadi produk eksklusif.

Ketiadaan Jobs, menurut FinancesOnline, jelas berpengaruh terhadap kreativitas dari para engineer Apple. Sampai-sampai mereka mengatakan, "Apple is seen as a big complex of creative engineers who served Job's idea".Β Β 

Sementara Google, duo pendirinya -- Larry Page dan Sergey Brin -- memang masih menjadi andalan. Namun mereka tidak 'one man show' alias memiliki ketergantungan yang teramat tinggi.

Google pernah dipimpin oleh CEO Eric Schmidt, baru beberapa tahun belakangan juru kemudi nakhoda dikembalikan lagi ke Larry Page. Sementara Sergey Brin lebih asyik bermain ke pengembangan produk baru Google.

Ide-ide unik dan menarik terkait produk Google kemudian bakal dikerjakan secara keroyokan oleh para engineer Google. Sampai akhirnya baru dilempar ke komunitasnya untuk mendapat feedback dan dikembangkan lebih lanjut.

3. Faktor Steve Jobs

Inilah yang paling ditakutkan pasca Steve Jobs tiada. Apple sulit bangkit dan masih berada di bayang-bayang sang pendiri yang telah menjadi legenda di industri teknologi tersebut.

Sebagai penerus Jobs, CEO Apple Tim Cook dianggap belum mampu untuk menjadi suatu inventor, seseorang yang punya ide-ide gila dan menyajikannya dalam suatu produk yang membuat orang-orang terperangah.

Ya memang, Jobs selalu dikenal sebagai orang yang ambisius dan punya ide yang out of the box. Awalnya, sikap Jobs memang kerap dipandang sebelah mata, namun produk anti mainstream hasil dari idenya lama kelamaan justru jadi produk eksklusif.

Ketiadaan Jobs, menurut FinancesOnline, jelas berpengaruh terhadap kreativitas dari para engineer Apple. Sampai-sampai mereka mengatakan, "Apple is seen as a big complex of creative engineers who served Job's idea".Β Β 

Sementara Google, duo pendirinya -- Larry Page dan Sergey Brin -- memang masih menjadi andalan. Namun mereka tidak 'one man show' alias memiliki ketergantungan yang teramat tinggi.

Google pernah dipimpin oleh CEO Eric Schmidt, baru beberapa tahun belakangan juru kemudi nakhoda dikembalikan lagi ke Larry Page. Sementara Sergey Brin lebih asyik bermain ke pengembangan produk baru Google.

Ide-ide unik dan menarik terkait produk Google kemudian bakal dikerjakan secara keroyokan oleh para engineer Google. Sampai akhirnya baru dilempar ke komunitasnya untuk mendapat feedback dan dikembangkan lebih lanjut.

4. Ekspektasi Teramat Tinggi

Tak bisa dipungkiri, banyak pihak penasaran saat menghadiri peluncuran produk terbaru Apple.

Penggila gadget dunia tentu mengharapkan perasaan campur aduk yang sama kala Steve Jobs tampil di panggung dan memperkenalkan iPod, iPhone dan iPad.

Inilah produk-produk yang bikin banyak orang begitu antusias sampai-sampai rela mengantre sehari semalam di depan Apple Store demi jadi orang pertama yang mencicipinya.

Selain itu, produk-produk Apple ini kemudian jadi panutan vendor gadget lainnya dalam membuat produk baru. Singkatnya, Apple dan Steve Jobs sukses menciptakan tren baru di industri gadget dunia.

Ekspektasi yang teramat tinggi ini pula yang diharapkan dapat dilanjutkan para punggawa Apple sepeninggal Steve Jobs. Sehingga membuat engineer Apple punya beban lebih berat kala ingin menciptakan gadget anyar.

4. Ekspektasi Teramat Tinggi

Tak bisa dipungkiri, banyak pihak penasaran saat menghadiri peluncuran produk terbaru Apple.

Penggila gadget dunia tentu mengharapkan perasaan campur aduk yang sama kala Steve Jobs tampil di panggung dan memperkenalkan iPod, iPhone dan iPad.

Inilah produk-produk yang bikin banyak orang begitu antusias sampai-sampai rela mengantre sehari semalam di depan Apple Store demi jadi orang pertama yang mencicipinya.

Selain itu, produk-produk Apple ini kemudian jadi panutan vendor gadget lainnya dalam membuat produk baru. Singkatnya, Apple dan Steve Jobs sukses menciptakan tren baru di industri gadget dunia.

Ekspektasi yang teramat tinggi ini pula yang diharapkan dapat dilanjutkan para punggawa Apple sepeninggal Steve Jobs. Sehingga membuat engineer Apple punya beban lebih berat kala ingin menciptakan gadget anyar.

5. Infografis

Berikut brand value yang dirilis BrandZ untuk tahun 2014. Dalam data tersebut, nilai brand Apple turun sampai 20%, sampai akhirnya dilewati oleh Google.

5. Infografis

Berikut brand value yang dirilis BrandZ untuk tahun 2014. Dalam data tersebut, nilai brand Apple turun sampai 20%, sampai akhirnya dilewati oleh Google.

(ash/rns)









Hide Ads
LIVE