Pemilihan umum tahun ini akan diselenggarakan pada 9 April 2014 untuk legislatif, dan 9 Juli 2014 untuk presiden. Dengan demikian, tim sukses dari caleg dan capres akan berlomba-lomba untuk menggunakan media yang paling memungkinkan untuk menyebarkan propaganda politik mereka.
Salah satu media yang paling memungkinkan untuk itu, tentu saja, adalah media sosial (medsos). Bagaimanakah caranya?
Media Sosial dan Politik
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, banyak foto hoax bernuansa politik yang beredar di medsos, dan dipercaya sebagai foto benar. Contohnya foto hoax seorang anak pengungsi Suriah yang tidur di antara makam orang tuanya.
Hanya saja, ternyata ada beberapa hal yang seyogyanya dipertimbangkan sebelum memilih platform medsos yang ideal untuk melakukan kampanye. Manakah plaform yang ideal?
Mengapa Twitter?
Saya di sini ingin menyajikan beberapa platform medsos, dan membandingkan feasibilitas mereka jika digunakan untuk kampanye politik di mobile.
Mengapa kita memfokuskan diri kepada mobile? Karena sekarang semakin banyak user yang mengakses medsos menggunakan smartphone atau tablet.
Tahun 2013 saja, ada sekitar 41,3 juta pengguna smartphone dan 6 juta pengguna tablet di Indonesia. Jumlah ini sangat menggiurkan, mengingat sebagian pemakai gadget tersebut sangat mungkin akan menggunakan medsos.
Oleh karena itu, mari kita bandingkan satu persatu medsos mainstream yang umum digunakan pada platform mobile, dalam konteks penggunaannya pada kampanye.
Facebook terlalu berat untuk platform mobile mid-range ke bawah, dan terlalu banyak distraksi dalam rupa game dan video.
User akan terlalu sibuk main game online dan membuka video yang fun dibanding memperhatikan propaganda politik. Belum lagi privacy setting dari Facebook yang tidaklah sederhana, yang memerlukan pemahaman lebih mendalam.
Path terlalu segmented, dengan jumlah friend maksimum 150 akun, maka akan sangat sukar mendiseminasikan propaganda secara optimum.
Path adalah medsos yang didesain untuk membangun social network bagi pertemanan yang intim, sementara propaganda politik harus menjangkau semua orang tanpa kecuali. Sehingga di sini ada paradoks yang sukar dipertemukan.
Google+ adalah medsos yang terutama segmented untuk kalangan hard core computer scientist dan hobbyist. Medsos yang segmented seperti Google+ agak sukar digunakan untuk propaganda politik, karena umumnya user menggunakannya untuk diseminasi hobi mereka masing-masing.
Twitter mampu melampaui restriksi dari medsos yang lain. Di dalam medsos Twitter, tidak terlalu banyak distraksi game dan video, sehingga user bisa fokus pada pesan yang ingin ia 'tangkap'.
Twitter juga tidak segmented, karena bisa mem-follow dan di-follow berapapun pengikut yang diinginkan. Selebrity seperti Justin Bieber dan Lady Gaga saja memiliki jutaan follower.
Twitter bukan platform medsos khusus hobbyist atau kalangan tertentu, sehingga bisa diakses oleh siapa saja. Karena kelebihan-kelebihan inilah, maka Twitter sangatlah ideal digunakan untuk kampanye politik. Silakan tim sukses masing-masing caleg dan capres mempertimbangkan hal ini.
Keberadaan akun anonim di Twitter menambah 'serunya' berkicau di medsos ini. Akun anonim legendaris seperti @benny_israel misalnya, menambah penasaran user di Twitterland akan validitas dari informasi yang diberikan.
Sementara itu, akun @kurawa juga mendapatkan banyak pengikut, karena memberikan informasi yang bersifat 'alternatif', dan di luar dari narasi umum yang berlaku.
User Diharapkan Cerdas
Walau di sisi tim sukses caleg dan capres, Twitter merupakan salah satu platform medsos terbaik, justru di kalangan end user, ini bisa menjadi masalah besar.
Arus informasi pada Twitter datang dengan sangat deras dan tidak dapat dibendung, sehingga menelan bulat-bulat semua informasi yang ada merupakan sikap yang sangat gegabah.
Memilih calon legislatif dan presiden untuk 5 tahun ke depan, yang akan menentukan nasib bangsa ini. Oleh karena itu, jangan gegabah menelan mentah-mentah propaganda di media sosial.
Ingat bahwa semua kampanye politik merupakan bungkus dari suatu kepentingan, yang harus ditelaah dengan sangat kritis. Satu hal yang pasti, jangan silau dengan pencitraan di medsos Twitter.
Fokuslah dengan program maupun visi dan misi dari caleg dan capres. Juga yang paling penting, tentu saja perhatikanlah track record dari mereka masing-masing.
Dengan demikian, apakah informasi di Twitter dapat dipercaya? Yang paling utama,dengarkan hati nurani, karena di situlah letak kebijaksanaan bagi diri sendiri. Be wise!
![]() | Tentang Penulis: Dr.rer.nat Arli Aditya Parikesit adalah alumni program Phd Bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman; Peneliti di Departemen Kimia UI; Managing Editor Netsains.com; dan mantan Koordinator Media/Publikasi PCI NU Jerman. Ia bisa dihubungi melalui akun @arli_par di twitter, https://www.facebook.com/arli.parikesit di facebook, dan www.gplus.to/arli di google+. |
