Seperti dilansir The Guardian, Jumat (10/1/2014), Jobs digambarkan sebagai orang berkepribadian kompleks, 'mencurigakan' sekaligus 'berintegritas'.
Dokumen tersebut disusun oleh FBI saat Jobs dipertimbangkan menjadi staf politik di bawah pemerintahan George Bush Senior. FBI telah merilis dokumen tentang Steve Jobs dirilis untuk memenuhi permintaan kebebasan nformasi di AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
FBI mewawancarai Jobs dan sekitar 29 orang yang tahu tentang dirinya. Investigasi itu dilakukan pada medio '90an setelah Jobs dipecat dari Apple dan sebelum dia kembali lagi mensukseskan perusahaan itu.
"Beberapa orang mempertanyakan kejujuran Jobs yang menyatakan akan membalikkan kebenaran dan mendistorsi realitas untuk mencapai tujuannya. Mereka juga berkomentar bahwa Jobs tidak mengakui anak perempuannya. Namun belakangan, anak perempuannya diakui," menurut dokumen itu.
Sumber lain mencitrakan Jobs sebagai seseorang yang memperdayakan serta tak sepenuhnya jujur.
Dokumen itu menggambarkan Jobs sebagai seorang yang rumit dan penuh kontradiksi. Seseorang yang diwawancarai FBI mengidentifikasi Jobs sebagai teman yang baik. Namun orang itu juga punya persepsi lain.
"Pada dasarnya dia orang yang jujur dan dapat dipercaya, dia itu sangat kompleks dan mencurigakan. Dia mengasingkan banyak orang di Apple sebagai imbas dari ambisinya," kata orang itu.
Namun tak satupun saksi yang mempertanyakan kemampuan bisnisnya. Dua orang saksi lain memandang Jobs sebagai orang yang berkemauan kuat, keras kepala, pekerja keras, dan pengendali. Karena itulah mereka percaya Jobs bisa sangat sukses.
Dia adalah orang yang 'energinya tak pernah surut', visinya menghasilkan kontribusi positif di lingkup nasional.
"Dipercaya penunjukan yang diperlukannya mengasumsikan level tinggi di posisi politik pemerintahan. Dalam pendapatnya, kejujuran dan integritas merupakan hal yang tak menjadi prasyarat untuk posisi yang ditunjuknya," kata seorang yang lain.
Jobs bepergian ke India pada pertengahan 1970an dan tertarik dengan Zen-Budhisme. Dia mempraktikan meditasi selama sisa hidupnya.
"Dia telah melalui perubahan falsafah dengan ikut dalam mistisisme Timur atau agama India. Perubahan ini jelas mempengaruhi kehidupan pribadi agar lebih baik," jelas dokumen itu.
Gambaran itu juga cocok dengan buku biografi Steve Jobs yang ditulis Walter Isaacson. Di buku itu ditulis Jobs mempunyai 'ranah penyimpangan kenyataan'.
"Kesadaran Zen tak disertai dengan ketenangan, kedamaian pikiran, atau kelembutan interpersonal," tulis Isaacson.
Saat wawancara, Jobs mengaku dirinya tak menggunakan obat terlarang selama lima tahun. Namun memang dia mengakui pernah menggunakan mariyuana, ganja, dan LSD antara tahun 1970 hingga 1974.
Jobs mengatakan kepada FBI bahwa dirinya bukan anggota partai komunis atau organisasi yang ingin menggulingkan pemerintahan. Dia hanya ikut kelompok eksklusif di pusat kebugaran Manhattan, yaitu Klub Atletik New York.
Dokumen itu juga menguak fakta Jobs pernah mengancam meledakkan bom untuk melawan Apple pada 7 Februari 1985, beberapa bulan sebelum Apple memecat Jobs.
"Seorang pria tak dikenal menelpon berulang-ulang, mengaku dari Apple Computer Inc dan memberi tahu bahwa 'sebuah peralatan' telah ditaruh di kediaman orang tertentu (dirahasiakan-red) dan satu juta dollar harus dibayar," tulis FBI.
Penelpon mengatakan dia telah diberi arahan mengenai bagaimana menjinakkan bom di bawah meja di depan mesin permen pada Hotel Hilton, San Fransisco. Namun tak ada bom atau pesan yang ditemukan di situ.
Agama yang dipelajari Jobs telah membuat dia hidup lebih kuat bak spartan, dan bahkan menjadi seperti rahib.
FBI memang bisa mengungkapkan dokumen semacam ini setelah orang yang bersangkutan meninggal. Jobs telah meninggal pada Oktober 2011 setelah berjuang melawan kanker langka.
Apple merupakan perusahaan kenamaan yang membuat iPhone, iPad, iPod, dan Mac. Setelah kematian Jobs, para pemuja Jobs di seluruh dunia pergi ke toko Apple dan mendirikan semacam 'kuil' yang disebut iShrines untuk mengenang Jobs.
(dnu/ash)