Rabu, 28 Agu 2013 09:41 WIB

Kolom Telematika

Syrian Electronic Army Serang Kepentingan Barat

- detikInet
Ilustrasi (digitaltrends)
Jakarta - Beberapa jam yang lalu, sebuah kelompok peretas yang bernama Syrian Electronic Army (SEA) meretas situs web Twitter, Facebook, New York Times, dan Huffington post.

Kejadiannya, DNS dari NYTimes.com diarahkan ke halaman yang menunjukkan pesan 'Hacked by SEA'. Registrasi domain Twitter juga diganti oleh mereka.

Akun twitter SEA, yaitu @Official_SEA16, mengklaim bahwa mereka adalah penanggung jawab retasan tersebut. Sekarang, ketiga situs web tersebut kelihatannya sudah bekerja normal kembali.

Sebelumnya, SEA diketahui telah meretas situs BBC, National Public Radio, Human Rights Watch, The Onion, dan the Financial Times. Apakah yang terjadi sesungguhnya?

Sepintas Mengenai SEA

Berdasarkan informasi dari Wikipedia, SEA adalah asosiasi dari para peretas, yang diduga satu front dengan pemerintah pro Assad di Suriah. Selain menargetkan situs web pihak barat, SEA juga menyerang situs web pro oposisi Suriah, yang anti Assad.

Situs web SEA sendiri telah diluncurkan pada Mei 2011, walaupun sampai tulisan ini dimuat, situs web tersebut tidak dapat diakses.

Dalam berbagai kesempatan, perwakilan SEA selalu merilis statemen patriotik, bahwa mereka adalah generasi muda yang melindungi bangsa dan negaranya sendiri.

Selain meretas web pro barat dan pro oposisi, SEA juga pernah memposting spam pada akun Facebook Barrack Obama dan Nicholas Sarkozy (mantan Presiden Perancis).

Salah satu serangan fenomenal mereka adalah meretas akun Twitter Associated Press, yang akhirnya mentweet klaim palsu bahwa Gedung Putih sudah dibom, dan Presiden Barack Obama terluka, yang menyebabkan indeks S&P 500 terjun bebas.

Apakah Ini False Flag Operation?

False flag operation adalah operasi intelijen yang merekayasa suatu event destruktif, sehingga pihak musuh menjadi diframe dari penanggung jawab event tersebut.

Gestapo, intelijen Nazi Jerman, adalah pihak yang mempopulerkan aksi false flag. Hal itu terjadi sewaktu Reichstag -- gedung parlemen Jerman (sekarang Bundestag) -- secara misterius dibakar pada tahun 1930-an.

Segera setelah kejadian, Hitler mengutuk konspirasi Yahudi dan Komunis sebagai pelaku pembakaran. Belakangan, setelah perang dunia II berakhir, diketahui pelaku pembakaran tersebut adalah pihak Nazi sendiri, supaya menjadi pembenaran terhadap politik 'final solution' (endlosung) mereka terhadap kaum Yahudi dan Komunis.

Selain pembakaran reichstag, diduga bahwa insiden teluk Tonkin yang mendahului perang Vietnam adalah false flag juga, walaupun tidak jelas pihak mana yang bertanggung jawab.

Mengapa wacana false flag ini disajikan? Sebab sangat menarik jika berspekulasi bahwa serangan retasan ini diarahkan ke situ, namun fakta di lapangan tidak mendukung hal tersebut.

Jika memang false flag, sejauh mana? Hal ini masih sangat spekulatif, karena bukti yang memang tidak ada. Kita harus berhati-hati menggunakan istilah false flag, karena umumnya pendukung teori ini adalah pengikut teori konspirasi.

Berdasarkan analisis dari pihak barat sendiri, SEA diketahui sama sekali tidak memiliki afiliasi resmi dengan pemerintah Suriah yang pro Assad.

Hal yang menarik adalah, Bashir al Assad sendiri pernah memuji sepak terjang SEA dalam suatu siaran televisi. Namun, pujian ini bukanlah indikasi atau membuktikan bahwa SEA didukung secara resmi oleh pemerintah Suriah.

Sejauh ini, kita bisa yakin bahwa motif SEA adalah murni mewakili generasi muda Suriah, karena tidak ada bukti bahwa perang cyber antara pihak barat dan Suriah adalah false flag operation, dan apa yang terjadi sesungguhnya baru dapat diketahui sekian tahun lagi, sewaktu dokumen intelijen yang membahas perang cyber ini di-undisclosed kepada publik.

Kita bisa berhipotesis, kalau bukan menyimpulkan, bahwa SEA memang adalah entitas independen yang didukung oleh rakyat Suriah sendiri, baik di dalam negeri ataupun diaspora.

Raison d’etre Invasi Suriah

Serangan elektronik (peretasan) terhadap web site barat dapat menjadi salah satu pembenaran untuk tindakan balasan ke pihak Suriah. Walau tidak dapat menjadi pembenaran untuk invasi militer, tapi hal ini dapat membuka front perang cyber secara besar-besaran, yang mungkin saja akan diakhiri oleh invasi militer.

Hanya saja, perlu diamati dengan cermat pernyataan para pejabat anggota NATO di media, bahwa mereka cenderung kompak. Berbeda dengan kondisi tahun 2003, dimana struktur komando NATO terpecah, karena Perancis dan Jerman menentang invasi ke Irak, hal itu tidak terjadi pada kasus Suriah.

Jika memang situasi semakin memanas, bukannya tidak mungkin NATO akan memutuskan invasi militer, seperti yang terjadi pada kasus Lybia. Di sisi lain, pihak Rusia dan China, sebagai anggota tetap dewan keamanan PBB, selalu secara tegas menolak setiap ide pihak barat untuk melakukan invasi militer.

Hanya saja, apakah veto Rusia dan China bisa mencegah invasi, hal itu adalah tanda tanya besar. Veto mereka terbukti tidak efektif dalam mencegah invasi Amerika Serikat dan Inggris ke Irak pada tahun 2003.

Satu hal yang perlu dicatat, bahwa jika memang akhirnya invasi terjadi, maka semua itu dimulai dengan perang cyber, yang sudah terjadi sejak tahun 2011.

Bagaimanapun, kita semua tidak pernah setuju akan terjadinya perang, karena sudah pasti akan jatuh korban rakyat/sipil yang tidak berdosa. Meletakkan senjata dan maju ke meja perundingan selalu adalah solusi yang terbaik bagi semua pihak.


Arli Aditya ParikesitTentang Penulis: Dr.rer.nat Arli Aditya Parikesit adalah alumni program Phd Bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman; Peneliti di Departemen Kimia UI; Managing Editor Netsains.com; dan mantan Koordinator Media/Publikasi PCI NU Jerman. Ia bisa dihubungi melalui akun @arli_par di twitter, https://www.facebook.com/arli.parikesit di facebook, dan www.gplus.to/arli di google+.



(ash/ash)