Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Multiscreen, Tantangan Konten Digital Masa Depan

Multiscreen, Tantangan Konten Digital Masa Depan


Rachmatunnisa - detikInet

(Ist)
Jakarta -

'If content is King, multiscreen is the Queen." Ungkapan ini muncul dari sebuah hasil studi Google Agustus silam. Ya, multiscreen menjadi tantangan berikutnya di industri konten digital.

Pernyataan Google ada benarnya, mengingat orang kini menikmati konten dari beragam perangkat, mulai dari komputer, ponsel, tablet, hingga smart TV. Ini juga akan turut berpengaruh pada mobile marketing.

Dikatakan Ari Fadyl Head of Digital & CRM Nokia, anggaran untuk mobile marketing sebuah brand itu kini terbagi menjadi dua. Pertama, membuat aplikasi mobile untuk target audience. Kedua, kampanye marketing via web.

Β 

HTML5 untuk multiscreen

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menariknya, HTML5 disebut-sebutnya potensial menjadi jawaban atas tantangan multiscreen di masa depan. Karena pada saat buat aplikasi, setiap kali ada ukuran layar yang berbeda atau handset berbeda, developer harus membuat lagi.

"Nah, jika resource terbatas untuk develop multiplatform application, sebaiknya go to web approach. Develop website yang adaptive dengan HTML5. Mau layarnya ukurannya apapun, handsetnya apapun, informasi akan tampil sempurna," jelasnya.

Namun Ari yang ditemui di salah satu sesi di ajang Indonesia Internet Show 2012, di Hotel Grand Hyatt, 5-6 Desember 2012 ini, mengungkapkan bahwa masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Aplikasi mobile di ponsel, menurutnya akan lebih kaya experience. Ini dikarenakan aplikasi dilengkapi dengan sensor sehingga bisa 'berbicara' dengan fitur ponsel seperti kamera atau GPS.

"Misalnya aplikasi eksklusif call Taxi Blue Bird di Nokia Lumia 920. Itu setelah pesan taksi bisa tracking posisi taksinya sudah dimana. Berapa meter lagi menuju kita," ujarnya memberi contoh.

Dibandingkan dengan di web menurutnya, kontennya biasanya sebatas teks, gambar dan video. Namun kelebihan dan kekurangan ini disebutkannya dikembalikan lagi kepada tujuan sebuah brand yang akan melakukan marketing campaign.

"Ke depannya, bukan masalah mobile saja. Mindset kita, mobile itu ponsel kan, padahal bukan itu saja. Dalam waktu dua tiga tahun lagi, multiscreen namanya," ujarnya.

Dia memberikan gambaran, di Amerika Serikat sudah membahas bagaimana sebuah brand bisa menyajikan informasi di berbagai perangkat sama rata. Akan memusingkan jika masing-masing platform harus membuat aplikasi, sementara resource-nya terbatas.

"Jadi kenapa trennya orang agak memihak ke HTML5, karena ke depannya akan lebih banyak lagi layar. Google contohnya, punya kacamata futuristik. Bagaimana supaya bisa tampil di layar pada kacamata. Itu kan platform baru lagi," simpulnya.

(rns/fyk)





Hide Ads