Situasi ini menjadi cerita pengantar dalam game Startup Story. Game yang dibuat empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini berupaya mengkampanyekan pesan anti pembajakan.
Startup Story merupakan simulasi memulai bisnis yang membuat pemain harus mengambil keputusan membeli produk asli atau bajakan di dalam bisnisnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak sia-sia, Edwin bersama tiga rekannya: Unggul Bhakti Muhammad, Samuel Enrico Wijaya dan Georgious Rinaldo Winata berhasil mencuri perhatian juri dengan game ini.

Di ajang IP App Challenge Indonesia yang digelar Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS), Startup Story keluar sebagai pemenang untuk kategori student. Ajang ini memang sengaja dihelat untuk mencari game menarik yang bisa dipakai sebagai alat kampanye anti pembajakan.
Kedubes AS menggandeng Global Entepreneurship Program Indonesia (GEPI), Microsoft dan Intel, menantang enam tim terpilih mendemonstrasikan aplikasi mereka di depan para juri di pusat kebudayaan AS @america di Pacific Place, Jakarta pekan ini.
"Tujuannya lebih kepada messagenya tercapai. Seperti game Startup Story ini situasinya emang bener, kita akan dihadapkan pada pilihan bajakan atau original. Tapi ini masih akan ada pengembangan, tinggal ditambahkan cerita dalam game, pilih ori atau bajakan impactnya apa," kata Firstman Marpaung dari Intel menyebutkan salah satu alasan Startup Story keluar sebagai pemenang.

Selain Startup Story, ada Battle of the Bands yang jadi pemenang untuk kategori profesional. Dimas Ciputra dari developer bernama OGV berupaya menyampaikan pesan anti pembajakan melalui cerita game membangun karir sebuah band.
"Para pemain di sini membangun karir sebuah band. Pesan tentang intelektual properti yang ingin disampaikan adalah bagaimana pembajakan lagu bisa merusak karir band," kata Dimas.
Shinta Kamdani dari GEPI mengatakan yang terpenting dari semua aplikasi game yang ikut dalam kompetisi ini adalah bisa menyampaikan pesan pentingnya intelectual properti ke masyarakat. Game dipilih sebagai sarana kampanye karena terbukti ampuh bisa mengedukasi dengan cara menyenangkan.
"Challengenya adalah bagaimana message di aplikasi pemenang ini, komunikasi ini jalan gak? Dan bagaimana ini bisa jadi satu produk yang diperjualbelikan," kata Shinta.
James Carouso selaku Economic Canselour Kedubes AS menambahkan, para pemenang juga akan dimbimbing bagaimana memasarkan aplikasi mereka. "Kami melihat entepreneurshipnya bagaimana. Jadi kami punya program yang mendukung startup," ujarnya.
Sebagai pemenang, tim Bojonegoro United dan OGV masing-masing diganjar hadiah USD 5.000. Hadiah ini menjadi bekal mengembangkan game mereka. Adapun aplikasinya akan digratiskan, ditaruh di GEPI dan toko aplikasi dan dipakai Kedubes AS untuk kampanye anti pembajakan.
(rns/ash)