Begini rupanya pemandangan sehari-hari di salah satu ruangan di BlackBerry Innovation Center (BBIC). Ya, masih ingat? Maret silam, pembesut BlackBerry Research In Motion (RIM) menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) membentuk pusat inovasi ini. Penasaran, apa saja yang dikerjakan tim BBIC?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aplikasi Smart City
Sesuai namanya yang mengusung label innovation center, BBIC memang diharapkan menjadi pusat pengembangan inovasi berbasis mobile computing. Adapun inovasi yang muncul dari sini nantinya berupa aplikasi dan industri baru.
"Dari situ kita bisa mendatangkan peneliti. Kita juga ada pengembangan entepreneurship," kata Chairman Institute for Innovation and Entrepreneurship Development ITB, Suhono Harso Supangkat.
Di BBIC, RIM bersama ITB berencana mewujudkan smart city di Indonesia. Tak heran, aplikasi yang dikembangkan di sini pun pada akhirnya disiapkan untuk mendukung infrastruktur smart city yang akan mulai digeber tahun depan.
"Sekarang ini masih on the way, bikin platform dasar dulu. Dari beberapa kegiatan sebelum adanya BBIC, kita sudah buat aplikasi untuk smart health, detektor lingkungan, smart parking, smart reporting, goesmart.com dan lain-lain," papar Suhono yang membimbing para mahasiswa di BBIC.
Semua aplikasi itu masih terus dikembangkan dan nantinya akan diintegrasikan dalam sebuah komunitas terpadu sebagaimana prinsip smart city.

Begadang di Laboratorium
Sebagai penerima beasiswa dari RIM, para mahasiswa yang berkutat di BBIC ditunjang berbagai fasilitas untuk mengasah kreativitas mereka. Beasiswa meliputi biaya pendidikan, uang insentif riset selama masa studi mereka dan fasilitas berupa laptop dan smartphone BlackBerry.
Selama bekerja di BBIC, selain mengikuti kurikulum pendidikan yang diselenggarakan ITB, setiap mahasiswa juga menerima pelatihan pengembangan aplikasi BlackBerry untuk mendukung proyek penelitian mereka.
Asyiknya lagi, di sini mereka dibekali ilmu kewirausahaan. Misi utamanya, tentu saja membangun kemampuan kewirausahaan dan mendorong pengembangan pengetahuan.
Meski kegiatannya terdengar 'berat', para mahasiswa disini mengaku sangat menikmati pekerjaan mereka. BBIC bahkan sudah seperti rumah bagi mereka. Banyak di antara teman-teman mahasiswa di sini masih asyik berdiskusi hingga larut malam dan tak jarang begadang di laboratorium.
"Walaupun lembur, tapi bisa menikmati. Saya suka penelitian, jadi lebih bisa enjoy," kata Iqbal Rahmadian Pamungkas, salah satu anggota tim BBIC.
Sejauh ini, Iqbal mengaku dirinya dan teman-temannya tidak menemukan kendala dalam pengembangan aplikasi. Diperkirakannya, kendala kemungkinan akan muncul pada saat implementasi aplikasi tersebut.
Saat ini ada enam tim besar di BBIC yang membangun sistem smart city. Enam tim itu terbagi menjadi smart health, smart transportation, smart education, smart home, smart energy, dan smart environment. Setiap tahun, seperti disebutkan Iqbal, masing-masing anggota dari tim ini ditargetkan minimal membuat satu aplikasi.
Tentunya, akan ada banyak aplikasi smart city bermunculan dari ide mereka. Apalagi, setiap tahunnya anggota tim BBIC akan terus bertambah. Seperti dikatakan sang pembimbing Suhono, tiap tahun ada 30 orang penerima beasiswa yang akan bergabung di BBIC.
Jadi, mari kita nantikan inovasi muncul dari sini...
(rns/ash)