Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Faktor Penghambat Kesetaraan Gender di IT

Faktor Penghambat Kesetaraan Gender di IT


Rachmatunnisa - detikInet

(Ist/CiscoBlog)
Jakarta -

Stigma bahwa perempuan gaptek dan dunia IT hanya bisa dimengerti oleh pria, hanyalah segelintir hal yang menghambat kesetaraan gender di ranah IT.

"Sangat kental soal gender itu di IT. Karena beranggapan perempuan bisa apa? Padahal, ada begitu banyak keuntungan bagi para perempuan begitu mengenal IT," kata penggiat ICT Women Nurlina Purbo.

Tak hanya dari lingkungan, perspektif gender juga datang justru dari sebagian kaum perempuan itu sendiri. Mereka merasa IT adalah bidang yang sangat 'laki-laki' sehingga mereka enggan bersentuhan dengannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau diperhatikan pada acara seminar IT untuk mahasiswa saja misalnya, jarang perempuan kecuali yang minat banget. Segitu tingkat mahasiswa loh ya," kata istri dari pakar ICT Onno W Purbo ini.

Satu lagi yang menjadi ganjalan, adalah adat dan budaya yang tidak mendukung. Umumnya, perempuan akan terganjal dengan jam kerja apalagi jika mereka sudah berkeluarga.

"Kalau kita bekerja di bidang teknologi itu kan bisa stand by 24 jam. Itu riskan. Apalagi adat dan kebudayaan kita juga tidak mendukung ya," kata Lina.

Dikatakannya, sudah banyak perempuan yang punya potensi di bidang IT. Di penerbit game Nusantara Online tempat dia pernah bekerja misalnya, di balik itu ada tim perempuan yang mengerjakan coding.

"Jadi potensinya besar. Tapi kesempatannya yang kurang banyak. Kesetaraan gender itu perlu. Kalau harkat kita sebagai perempuan ya gak bisa ditolak. Melahirkan, mendidik anak, mengurus keluarga itu melekat dalam diri kita. Tapi secara potensi kalau bisa, kemampuan sama kenapa nggak?," ujarnya.

Ditambahkan pula olehnya, seperti kodratnya perempuan dan laki-laki yang saling melengkapi, demikian juga di ranah IT. Menurutnya, perempuan bisa menjadi penyeimbang ketika dilibatkan.

"Karena taste dan karakteristik perempuan kan beda sama laki-laki. Potensinya memang besar bukan untuk pekerjaan yang sangat berat. Kalau di bidang IT, perempuan bisa main di bagian software, aplikasi. Hardware biasanya cowok. Jadi perempuan bisa mengimbangi," pungkasnya.

(rns/eno)





Hide Ads