"Seperti internet, dulu ramai orang memperbicangkan. Tapi kini, sudah banyak orang pakai jadi tidak begitu lagi. Begitu juga dengan open source ketika baru diperkenalkan sekitar 97-an atau 98-an," kata salah satu penggiat open source I Made Wiryana.
Dikatakannya, saat ini ada banyak orang yang memakai open source untuk berbagai macam keperluan. Open source menurutnya tak lagi ramai diperbincangkan, tapi wujudnya sudah pada penggunaan. Bahkan disebutkannya, sudah diserap menjadi aturan pemerintah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dimodifikasi untuk membangun industri, menurutnya adalah taraf berikutnya setelah diperkenalkan dan dipakai. Saat ini di Indonesia, arahnya rupanya sudah mengacu ke sana. Dikatakannya, semakin banyak produk yang basisnya open source.
Pria berkacamata ini memberi contoh, geliat Android. "Itu kan basicnya Linux. Sekarang banyak handphone lokal yang pakai Android yang sudah diotak-atik," kata Made.
Dicontohkan Made, animo developer Android sangat besar untuk membuat aplikasi di platform tersebut. Karena Android memberikan peluang lebih besar bagi mereka. Bagi developer, membangun aplikasinya dan proses ke pasarnya lebih mudah dibandingkan membuat aplikasi untuk platform yang bersifat propietary.
"Kalau di propietary misalnya diharuskan sign in ini itu sebelum ke market. Harus dapat digital signature. Itu bukan hanya biaya bayarnya, tapi proses membayarnya itu juga tidak mudah. Jadi bagi developer muda yang istilahnya casual programming, belum menjadi full developer kan harus invest waktu, itu poinnya," jelasnya.
Selain produk Android, disebutkan Made masih banyak contoh produk berbasis open source lainnya seperti solusi Voice over Internet Protocol, solusi intranet, solusi content management system dan lain-lain. Ini pertanda, perlahan-lahan open source di Indonesia mulai berkembang membangun sebuah industri.
"Bisa dikatakan, kita sekarang berada di level itu lah di Indonesia. Walaupun tidak kelihatan tapi pelan-pelan ke arah sana," ujarnya.
(rns/ash)