Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Jatuh Bangun, Para CEO Ini Coba Perjuangkan Yahoo

Jatuh Bangun, Para CEO Ini Coba Perjuangkan Yahoo


- detikInet

Scott Thompson
Amerika Serikat - Skandal pemalsuan gelar oleh Scott Thompson tak bisa ditolerir jajaran investor dan dewan direksi Yahoo. Belum lama menjabat sebagai CEO, Thompson didesak mundur dari jabatannya.

Sebelum lengser, kepada seluruh karyawannya Thompson melalui email sempat menyatakan permohonan maaf dan penyesalan mendalam.

"Kita semua telah bekerja sangat keras memajukan perusahaan, dan masalah ini tentunya akan berdampak sebaliknya. Untuk itu, saya bertanggung jawab sepenuhnya, dan saya memohon maaf kepada Anda sekalian," demikian isi email yang dikirim Thompson.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi toh, pernyataan maaf tersebut tampaknya sia-sia saja. Thompson akhirnya lengser dari jabatannya. Ibarat kutukan, Thompson menambah daftar CEO Yahoo yang jatuh bangun, dan akhirnya mundur atau dipaksa mundur. Berikut ulasan kepemimpinan para CEO tersebut.


Tim Koogle (1995 - Mei 2001)

Tim Koogle adalah CEO pertama Yahoo. Halaman profil Business Week pada 1998 pernah menuliskan bahwa CEO dengan ciri khas setelan jas dan turtle neck hitam ini adalah alasan Yahoo berkembang.

Namun tiga tahun kemudian, Koogle menundurkan diri dari jabatannya. Dia dinilai tidak punya inovasi di tengah-tengah booming persaingan perusahaan 'dot.com' yang kala itu tengah marak bermunculan.

Di bawah kepemimpinan Koogle, Yahoo mengucurkan miliaran dolar untuk perusahaan seperti Broadcast.com dan Geocities yang akhirnya dianggap tidak menguntungkan perusahaan.

Satu masalah lagi, Koogle memiliki reputasi sebagai orang menyenangkan yang sulit mengatakan tidak untuk proyek-proyek yang akhirnya merugikan Yahoo sendiri.

Terry Semel (Mei 2001 - Juni 2007)

Yahoo mengalami perubahan haluan cukup mencolok sepeninggal Tim Koogle. Kendali Yahoo berikutnya dipegang oleh Terry Semel. Pengalamannya bekerja di Warner Bros selama 24 tahun mempengaruhi setiap keputusannya di Yahoo, mengarah pada konten yang bersifat hiburan.

Pada awalnya, strategi ini berhasil. Semel juga dipuji karena sederet inisiatifnya dan rasionalisasi grup bisnis. Dia pun membuat bisnis Yahoo tak hanya bergantung pada iklan, tetapi juga memanfaatkan arus pemasukan dari jalur alternatif seperti layanan premium dan classified listing.

Semel melihat Yahoo ibarat 'media play' dan berupaya keras untuk merealisasikan visinya tersebut. Namun kemudian, kondisi finansial Yahoo mengecewakan. Semel mulai kesulitan menangkis serangan dari perusahaan web generasi terbaru.

Terutama, Semel dinilai gagal membangun kesuksesan bisnis pencarian iklan dan tertinggal jauh oleh Google yang terus meroket. Dia gagal berupaya menggeser Yahoo menjadi perusahaan konten.

Jerry Yang (Juni 2007 - Januari 2009)

Ketika Jerry Yang mengambil alih kursi CEO pada Juni 2007, dia berjanji memperbaharui strategi Yahoo melawan dominasi Google. Jerry adalah sosok yang mengawal transformasi Yahoo mulai dari membidani kelahirannya, mencetak masa gemilang hingga turun pamor.

Lahir di Taiwan dan tumbuh di San Jose, Amerika Serikat (AS), Jerry bersama rekannya David Filo mendirikan Yahoo pada 1995. Dua tahun kemudian, Yahoo mulai go public, dengan Timothy Koogle dimunculkan sebagai CEO pertama.

Di 2008, setelah Jerry gagal meningkatkan penjualan, Microsoft mengajukan keinginan untuk meminang Yahoo. Tawaran ini ditolak Jerry mentah-mentah. Ia lantas berupaya mengambil jalan lain yakni menjalin kerjasama dengan Google, meski kemudian upaya itu pun gagal.

Namun selanjutnya, masih di bawah kepemimpinan Jerry, Yahoo bersepakat dengan Microsoft untuk berbagi operasional pencarian internet. Jerry berusaha meyakinkan para investor kala itu.

Carol Bartz (Januari 2009 - September 2011)

Carol Bartz terpilih menggantikan Jerry Yang sebagai nakhoda Yahoo berikutnya. Bartz punya catatan cemerlang sebelumnya sebagai CEO Autodesk. Sayangnya, wanita berambut pirang ini tidak punya latar belakang di bidang media dan periklanan.

Inilah yang kabarnya menjadi salah satu faktor Bartz gagal menjalankan Yahoo. Dalam masa kepemimpinannya, Bartz berupaya keras meyakinkan direksi dan para investor bahwa Yahoo akan kembali ke 'jalur yang benar'. Sayangnya, Bartz dinilai tak punya inovasi apapun untuk mengubah keadaan Yahoo.

Lepasnya jabatan Bartz sebagai CEO Yahoo bukan lantaran yang bersangkutan mengundurkan diri, melainkan dipecat. Ironisnya, pemecatan itu kabarnya dilakukan melalui sambungan telepon.

(rns/ash)






Hide Ads