Skandal pemalsuan gelar sarjana memaksa Scott Thompson mengundurkan diri sebagai CEO Yahoo. Kendati baru 4 bulan memegang tampuk pimpinan, mantan petinggi Paypal ini terkenal dengan kebijakan kontroversialnya.
Diangkat sebagai CEO yang baru menggantikan Carol Bartz, Thompson diharapkan mampu memberikan titik cerah di Yahoo. Sayangnya, pencerahan yang diberikan justru menjadi 'awan kelam' bagi sejumlah karyawan Yahoo yang lain.
Kebijakan kontroversial pertama adalah perubahan haluan usaha Yahoo kembali ke core bisnis semula yang menempatkan pengguna dan pengiklan sebagai tujuan utamanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Imbasnya, sekitar 2.000 karyawan Yahoo di seluruh dunia di-PHK. Kebijakan kontroversial kedua Yahoo ini pun merembet juga ke Yahoo Indonesia. Dimana lebih dari 20 developer dirumahkan. Hingga pada akhirnya, layanan jejaring sosial lokal berbasis lokasi yang diakuisisi Yahoo -- Koprol -- digantung nasibnya.
"PHK adalah langkah berikutnya yang penting menuju Yahoo baru yang lebih 'kecil', gesit, lebih menguntungkan dan lebih siap untuk berinovasi secepat pelanggan kami dan industri butuhkan," kata Thompson dalam sebuah pernyataan, saat itu.
"Kami sedang mengintensifkan upaya pada bisnis inti dan redeploying sumber daya untuk prioritas yang paling mendesak," katanya.
"Tujuan kami adalah untuk kembali ke tujuan utama denganmenempatkan pengguna dan pengiklan sebagai tujuan pertama. Dan kita bergerak agresif untuk mencapai tujuan tersebut," tandas Thompson.
Nah, setelah Thompson tidak lagi menjabat, tentu saja menarik menanti apa yang akan terjadi selanjutnya terhadap nasib karyawan Yahoo ke depannya. Termasuk yang sudah masuk dalam rencana PHK perusahaan berbasis di Sunnyvale, AS itu.
(ash/ash)