Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Mood Online Ramalkan Lonjakan Pengangguran?

Mood Online Ramalkan Lonjakan Pengangguran?


- detikInet

Ilustrasi (reuters)
Jakarta - Naik turunnya mood kala berjejaring sosial dan tingkat pengangguran di suatu negara, jika dilihat secara kasat mata tentu jauh korelasinya. Namun bagi perusahaan IT SAS dan United Nations Global Pulse ternyata kedua hal itu bisa saling terhubung. Tak percaya?

SAS dan United Nations Global Pulse telah mempelajari bahwa obrolan dan sentimen pembicaraan dalam sosial media dapat memberikan peringatan sebelum jumlah pengangguran meningkat dan menginformasikan pembuat kebijakan tentang akibat yang mungkin terjadi.

Menganalisa setengah juta blog, forum dan situs berita, SAS Social Media Analytics dan SAS Text Miner memeriksa data sosial media selama dua tahun dari Amerika Serikat dan Irlandia sebagai referensi tentang pengangguran dan bagaimana cara orang-orang mengatasinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SAS membandingkan nilai mood dan volume percakapan dengan statistik pengangguran resmi untuk melihat apakah tren kenaikan di atas normal, dimana pada topik tersebut indikatornya adalah melonjaknya pengangguran.

Analisis tersebut menunjukkan jika meningkatnya obrolan tentang pemotongan belanja, meningkatnya penggunaan transportasi publik dan penggantian jenis kendaraan menjadi yang lebih murah, memang dapat memprediksi meningkatnya pengangguran.

Setelah meningkat, pembicaraan di sosial media yang meningkat adalah tentang beberapa topik seperti liburan yang tidak jadi, menurunnya pengeluaran kesehatan, dan penyitaan atau pengusiran yang menjadi pertanda utama efek penurunan ekonomi.

Informasi semacam itu dianggap berharga bagi pembuat kebijakan untuk mencoba mengurangi efek negatif dari meningkatnya pengangguran.

UN Global Pulse sendiri memeriksa bagaimana jenis data yang baru melengkapi dan memperkuat lembaga penyedia statistik resmi tentang bagaimana krisis global mempengaruhi masyarakat.

Dengan menggunakan sumber data sosial media, SAS dan UN Global Pulse menunjukkan bagaimana menganalisa sosial media dapat memberikan feedback secara real time bagi pembuat keputusan dan meningkatkan kemampuan untuk mengatur peristiwa yang mengganggu.

Menganalisa Mood Sebuah Negara

Perubahan-perubahan dalam mood sebuah negara dapat juga menjadi indikator tentang tertundanya kenaikan pengangguran. Dengan menganalisa sentimen, tiap referensi pengangguran menerima 'nilai mood' berdasarkan tone: Apakah para pengangguran optimis akan masa depan? Depresi tentang prospek?

SAS secara lebih jauh mensortir data berdasarkan tema, termasuk perumahan, transportasi dan keuangan, menggunakan istilah seperti 'mobil disita' atau 'dalam proses penyitaan'.

Di Amerika, meningkatnya mood 'permusuhan' atau 'depresi' terjadi empat bulan sebelum meningkatnya pengangguran. Meningkatnya obrolan pengangguran 'cemas' di Irlandia berhubungan dengan meningkatnya pengangguran lima bulan kemudian.

Meningkatnya obrolan 'kebingungan' mendahului peningkatan tiga bulan kemudian, sedangkan obrolan 'percaya diri' berkurang secara signifikan terhadap pengangguran dua bulan kemudian.

Sebuah dashboard menampilkan hasil, meliputi tren, mood para pengangguran yang diekspresikan dalam sosial media, mood berubah setiap saat, dan mengarahkan serta memperlambat indikator syok pengangguran.

"Sosial media dan isi internet seperti surat dan panggilan telepon yang selalu menginformasikan organisasi. Hanya saja, saat ini bentuknya digital, bersifat publik dan skala besar. 'Harta' yang belum tersentuh itu dapat memberikan feedback secara real time untuk kebijakan, meningkatkan keselamatan publik, meningkatkan hubungan warga negara dan mendukung penelitian sosiologi yang penting," kata I-sah Hsieh, Global Manager International Development SAS.

"Akan tetapi Anda memerlukan teknologi yang dapat menganalisa teks mentah untuk sinyal tersembunyi dan sentimen, menangani jumlah data yang sangat banyak dan menunjukkan analisis prediktif," pungkasnya, dalam keterangan tertulis.
(ash/rns)




Hide Ads