Demikian diungkapkan Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika Gatot S. Dewa Broto kepada detikINET, Senin (30/1/2012).
"Kebijakan sensor Twitter ini lebih banyak akibat dari dampak ekonomi secara makro," tukasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Para insider trading ini saling menjatuhkan satu sama lain dan banyak yang dilancarkan di Twitter. Sehingga belakangan membuat Twitter harus menertibkan peredaran kontennya. Jadi lebih banyak latar belakangnya karena aspek ekonomi makro," lanjutnya.
Twitter sendiri masih misterius menyibak alasan kebijakan sensor barunya. Isu lain yang dimunculkan adalah lantaran kepentingan bisnis ataupun desakan dari pemerintah AS yang belakangan tengah giat memantau peredaran konten di dunia maya.
Situs mikroblogging itu hanya mengungkap bahwa kebijakan sensor ini bisa dilakukan jika diminta pemerintah suatu negara yang ingin memblokir tweet berkenaan dengan sebuah topik.
"Mulai sekarang, kami memiliki kemampuan menahan konten dari dan untuk para pengguna di negara tertentu, namun tetap tidak mengabaikan ketersediaannya bagi pengguna di negara lain," demikian pengumuman yang disampaikan Twitter melalui blog resminya.
Pada tweet yang disensor, Twitter akan memperlihatkan tulisan 'Tweet Withheld: This tweet from @username has been withheld in: Country'. Seperti tampak pada screenshot di bawah ini.
Β

(ash/rns)