"Apple tak pernah memperhatikan hal-hal selain meningkatkan kualitas produk dan menurunkan ongkos produksi. Kesejahteraan buruh sama sekali tidak menarik perhatian mereka," kata Li Mingqi, mantan karyawan di manajemen pabrik Foxconn yang biasa membuat gadget Apple.
Beberapa mantan eksekutif Apple manyatakan terdapat pertentangan di dalam perusahaan. Mereka sejatinya ingin memperbaiki kondisi pabrik, namun berpotensi merusak hubungan dengan manajemen pabrik serta berdampak pada kecepatan pengiriman produk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tahu tentang isu perlakuan buruk para buruh di beberapa pabrik selama empat tahun, namun hal itu masih terus berlangsung. Mengapa? Karena sistem tersebut bekerja untuk kami," kata seorang mantan eksekutif Apple berbicara dalam kondisi anonimitas.
"Kami bekerja sungguh keras untuk membuat segalanya jadi lebih baik. Namun kebanyakan orang pasti akan sungguh terganggu jika mereka melihat darimana iPhone-nya berasal," tambahnya, dikutip detikINET dari New York Times, Senin (30/1/2012).
Apple sejatinya mensyaratkan agar pabrik rekanan tidak memperlakukan buruh secara semena-mena dan diancam pemutusan hubungan bisnis. Namun masalahnya menemukan pabrik baru yang sama bagus memerlukan waktu dan banyak biaya.
Foxconn adalah satu dari sedikit pabrik di dunia yang mampu membuat iPhone dan iPad dengan skala besar. "Apple tidak akan meninggalkan Foxconn dan mereka tidak akan meninggalkan China," kata Heather White dari organisasi Monitoring International Labor Standards.
Bos Apple Tim Cook mengakui memang banyak masalah di pabrik Apple. Namun ia berjanji Apple akan memperhatikan permasalahan tersebut.
"Kami akan terus menggali lebih dalam dan kami memang akan menjumpai lebih banyak isu. Kami tidak akan menutup mata terhadap masalah di jalur distribusi kami. Saya berjanji," pungkasnya.
(fyk/ash)