Budi, pemilik warnet di daerah Bogor menyatakan bahwa aksi pencurian listrik dilakukan beberapa pelaku bisnis warnet untuk menekan biaya operasional mereka. Hal ini dianggap 'mendesak' dilakukan lantaran biaya berlangganan warnet kian murah.
Hanya saja, imbasnya juga sampai kepada pengusaha warnet lain yang tengah berjuang menahan laju tagihan listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini diperparah dengan adanya persaingan bisnis dimana ada pemilik warnet yang beroperasi dengan mencuri listrik. Mereka bisa bertahan dengan mencuri listrik tersebut, dan bisa menawarkan tarif yang lebih murah," lanjutnya.
Pemilik warnet yang mencuri listrik ini biasanya adalah pengusaha kecil, yang beroperasi di pojok-pojok perumahan. Bukan bermaksud menggeneralisasi seluruhnya, namun jika warnet yang ada di jalur-jalur umum alias jalan raya akan lebih mudah terpantau.
"Entah ada main dengan orang PLN atau tidak, yang pasti mereka (warnet yang mencuri listrik-red.) tetap saja dibiarkan," lanjut Budi.
Budi sendiri memiliki dua warnet, satu di Bogor satu lagi di Jakarta. Di Bogor, warnetnya memiliki 60 unit PC dan di Jakarta 20 unit. Adapun tagihan listrik yang harus dibayarkan setiap bulan mencapai Rp 4 - 5,5 juta tiap bulan untuk setiap warnet.
"Sementara pendapatan bisa mencapai Rp 25 juta per bulan. Cuma kan harus dipotong biaya-biaya lainnya, seperti listrik, bandwidth, air, telepon, karyawan, dan banyak lagi. Jadi kadang malah gak ketutup pengeluarannya," keluhnya.
"Kalau dulu pendapatan dari satu warnetnya bisa mencapai Rp 1,2 juta per hari. Sekarang, Rp 600 ribu per hari saja sudah bagus," imbuhnya.
Dengan kondisi ini, ia pun berharap pihak PLN dapat mengambil tindakan agar persaingan di bisnis warnet menjadi lebih sehat. Terlebih, sekarang ini masyarakat semakin mudah untuk bisa online dengan keberadaan ponsel, modem, dan komputer jinjing yang semakin terjangkau, sehingga membuat warnet tak lagi dilirik.
(ash/fyk)