Seperti dikutip detikINET dari Harvard Business, Kamis (7/7/2011), seorang peneliti bernamaΒ Ernest Dichter, Β pernah melakukan studi komunikasi persuasif yang ternyata ada hubungannya dengan tren media sosial saat ini. Hasil studi tersebut ia paparkan di tahun 1966 pada artikel di Harvard.
Sebenarnya ada empat hal yang ditemukan Dichter, mengenai empat motivasi seseorang mengkomunikasikan sebuah hal baru. Hal baru di sini sekarang dapat diartikan sebagai sebuah brand.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua adalah pengaruh dalam diri sendiri (24%). Rasa untuk menjadi yang pertama mengumumkan suatu hal baru kepada publik adalah intinya. Kita lihat saja, ini sesuai dengan yang terjadi di Twitter, Facebook, atau Sparks di Google+, saat ada peristiwa atau produk baru. Semua pasti berlomba-lomba untuk mengumumkannya kepada dunia.
Ketiga adalah pengaruh di luar diri sendiri (20%). Dalam hal ini seorang pembicara dapat mempengaruhi persepsi publik. Konsep ini seperti pada beberapa influencer di Twitter, yang dimanfaatkan oleh vendor guna menyebarkan brand tertentu di internet.
Keempat adalah isi pesan itu sendiri (20%). Artinya pesan yang cukup informatif dan kreatif tentu akan memancing kehadiran publik untuk terus dibicarakan.
Nah, melihat gejala di media sosial saat ini, temuan Dichter ini memiliki model yang sama terkait motivasi orang untuk menjelaskan sebuah brand secara viral. Bagi pemilik usaha, hal ini jelas sangat efektif dalam terminologi membuat sebuah kampanye baik itu komersial maupun non-komersial, melalui jejaring sosial seperti Twitter, Facebook, atau Google+.
(fw/ash)