"Kami mengadakan survei global di tahun 2008, termasuk Indonesia. Masalah terbesar mengapa orang tidak mendaur ulang ponselnya adalah mereka tidak tahu jika ponsel bisa didaur ulang," kata Francis Cheong, Senior Sustainability Manager Nokia pada detikINET di Jakarta, Rabu (15/6/2011).
"Itu alasan pertama. Alasan kedua adalah, bahkan meskipun mereka tahu tentang hal itu, mereka tidak mengerti kemana harus mendaur ulang. Itulah dua isu besar yang dihadapi," tambah Francis. Padahal daur ulang ponsel dirasa perlu untuk mencegah limbah elektronik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Partisipan berhak mendapat satu unit pohon untuk ditanam di daerah yang ditentukan Nokia dan mitranya, yakni World Wildlife Fun (WWF). Pohon tersebut akan diberi nama sesuai dengan nama partisipan dan dapat dilacak keberadaannya.
"Saat ini lebih dari 5000 gerai Nokia di seluruh dunia memiliki drop box untuk program semacam ini," klaim Francis.
Mengenai kemungkinan orang enggan memberikan ponsel karena masih ingin dijual kembali, Francis juga tidak menampik kemungkinan tersebut. Hal serupa menurutnya juga jamak terjadi di beberapa negara lain, misalnya Vietnam.
(fyk/ash)