Menurut Gana Arditya, Kabid Humas Keluarga Public Relations Jogjakarta, di luar perdebatan tentang asal muasal fenomena tersebut -- apakah sengaja dibuat oleh manusia atau memang jejak UFO -- yang jelas pemberitaan soal fenomena ini di media nasional maupun media internasional akan memberi dampak kepada rasa penasaran orang untuk melihat 'petilasan' tersebut secara langsung.
"Hal ini akan menjadi sebuah daya tarik baru untuk kunjungan wisata ke Jogja, dan mungkin juga sebagai alternatif lain dari 'wisata' lava (di Gunung Merapi) yang mungkin sangat membahayakan bagi pengunjungnya," tukas Gana kepada detikINET, Selasa (25/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, ini pula sebaiknya yang dilakukan di lokasi crop circle di Sleman, sebaiknya tetap diamankan. "Ini untuk kepentingan penelitian lebih lanjut kelak, barangkali Badan Antariksa Nasional (LAPAN) atau mungkin suatu saat dari NASA akan datang ke Jogja tertarik untuk menginvestigasinya," imbuh Gana.
Pengamanan ini diperlukan agar 'jejak UFO' di area persawahan Dusun Rejosari Desa Jogotirto Kecamatan Berbah kabupaten Sleman ini tidak rusak karena diinjak-injak oleh pengunjung yang penasaran untuk melihat lebih dekat ke areanya
"Mudah-mudahan fenomena ini semakin banyak diperbincangkan dan didiskusikan di Twiter dan media lain. Siapa tahu akan menstimulus wisatawan luar negeri berkunjung kemari. Jika topik ini menjadi trending topic, ini sangat mempublikasikan Jogja," harap pria yang juga menjabat sebagai Kabag Humas APJII Jogja ini.
Menurut pantauan detikINET, Selasa (25/1/2011) sekitar pukuk 12.00 WIB, pokok pembahasan 'crop circle' dan 'UFO' memang masuk dalam daftar trending topic di Twitter. Namun itu untuk wilayah Indonesia saja, bukan bagi skala global. (ash/fyk)