Sebagai informasi, brandjacking merupakan aksi berpura-pura sebagai brand tertentu di dunia online, terutama pada social media seperti Twitter atau Facebook. Ancaman ini muncul akibat makin populernya social media sebagai alat bantu marketing.
Aksi brandjacking yang cukup terkenal adalah @BPGlobalPR, account palsu ini berpura-pura sebagai account perusahaan minyak BP saat sedang ramai bocoran minyak di Amerika Serikat. Di Indonesia, kasus spesifik seperti ini memang belum banyak terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang brand yang turun ke online sudah mulai grow. Yang perlu diperhatikan, sekarang apakah mereka memaintenance secara konsisten atau tidak," ujar Astrid Warsito, PR Specialist Acer Group Indonesia, ketika dihubungi detikINET, Selasa (23/11/2010).
Ia pun melanjutkan, bagi brand yang turun di social media, mereka harus full commitment dalam arti infrastruktur ataupun kesiapan lainnya.
"Hal itu (brandjacking-red) bisa dihindari kalau tim yang ada full dedicated dan tidak separo-separo. Saat kita turun di ranah online kita harus siap 24 jam sehari dan 365 hari dalam setahun," imbuhnya.
Lepas dari itu, Astrid membenarkan bahwa komunikasi antara brand dan pelanggan tetap harus dijaga. Karena saat ada akun palsu menyerang, komunitas yang telah dibangun dari sebuah brand sedikit banyak bisa membantu.
(fw/ash)