Menurut pemerhati online marketing Nukman Luthfie, pemilihan nama suatu akun di media sosial macam Twitter, Facebook, dan lainnya itu hanya bermodal azas 'siapa cepat dia dapat'.
Tak ada yang bisa mengatur seseorang untuk dilarang menggunakan suatu nama. Terlebih jika hal itu masih ada sangkut-pautnya dengan nama penggunanya sendiri.Β Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi itu sulit, karena namanya tidak unik. Berapa banyak sih orang yang punya nama 'Ahmad'? Saya tidak tahu akhirnya bagaimana, yang pasti dia mention untuk minta nama Ahmad Dhani diserahkan ke dia (pentolan grup band Dewa-red.)," ujar Nukman, kepada detikINET, Selasa (23/11/2010).
Kejadian ini sejatinya dapat menjadi bahan pembelajaran bagi para pesohor lainnya. Jika perlu, ketika tengah merintis popularitas, mereka sudah harus aware akan fenomena ini, langsung saja booking namanya di media sosial.
"Takutnya kan ada orang yang tidak populer terus memiliki nama yang sama. Bisa saja disalahgunakan akun tersebut. Namun meski memiliki nama sama tak semuanya memiliki niat buruk lah," lanjut Nukman.Β Β Β
Kian merakyatnya social media sebagai alat bantu marketing memunculkan ancaman bernama Brandjacking. 'Korban' aksi ini cukup banyak, mulai dari Steve Jobs hingga Barack Obama.
Brandjacking merupakan aksi berpura-pura sebagai brand atau tokoh tertentu di dunia online, terutama pada social media seperti Twitter atau Facebook. (ash/rns)