Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Brand Awareness vs Etika Check-in

Brand Awareness vs Etika Check-in


- detikInet

Jakarta - Tak dapat dipungkiri, penggunaan media sosial di Indonesia terus meningkat. Kian lama banyak perusahaan yang makin tanggap memanfaatkan 'pasar' tersebut untuk meraup brand awareness. Sayang di antara mereka masih banyak yang tak peduli dengan 'etika'.

Brand awareness mengandung pengertian untuk mengukur tingkat pengetahuan konsumen terhadap eksistensi sebuah brand alias merek dagang sebuah produk. Dalam terminologi singkat, meningkatnya brand awareness di ranah publik bakal membuat brand tersebut memiliki posisi khusus di kalangan masyarakat.

Singkatnya, brand awareness adalah kemampuan konsumen untuk mengingat suatu brand dan yang menjadikannya berbeda bila dibandingkan dengan brand lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tahun 1980, penggunaan media klasik untuk menanamkan brand awareness adalah hal yang efektif. Di zaman David Ogilvy tersebut, pengiklan banyak memasang produknya di surat kabar, radio, televisi, sinema, poster, maupun billboards secara langsung, direct marketing.

Kini, tren tersebut telah berubah. Lalu, media apa yang paling efektif untuk menancapkan 'kuku-kuku' sebuah brand di masyarakat? Sebut saja Facebook, Twitter, Foursquare, serta in-game advertising yang dirasa lebih pas dan efektif saat ini.

Serentetan media tersebut kini mulai banyak digunakan suatu perusahaan untuk memperluas pasar mereka.

Etika Check-In

In-game adveritsing menggunakan media sosial adalah satu dari banyak strategi marketing yang cukup diminati saat ini. Ambil contoh Pocari Sweat dengan game Ionopoli-snya.

Game yang juga dibuat untuk meningkatkan brand awareness Pocari Sweat ini memanfaatkan jejaring sosial yang sedang booming di Indonesia seperti Facebook, Twitter, dan Foursquare.

Terbukti pendekatan tersebut sangat efektif mengingat karakter pengguna media sosial di Indonesia sedikit 'latah viral'. Artinya, jika ada sesuatu yang baru pasti langsung ramai-ramai dicoba.

Ya, berbicara soal 'latah viral', pemilik brand tentu senang saat kampanye mereka direspon positif dengan banyaknya pendaftar di game tersebut. Terbukti dalam lima hari, jumlah pendaftar meledak hingga 13 ribu.

R.Suhendar, Produk Marketing Manager Pocari Sweat, saat ditemui detikINET kemarin di Emax, Plaza Semanggi, Jakarta, menjelaskan bahwa game ini juga bertujuan mengedukasi pasar.

Salah satu permasalahan pengguna media sosial di Indonesia--dalam hal ini Foursquare--adalah banyaknya pengguna yang melakukan remote (check-in tanpa datang ke lokasi) saat melakukan check-in demi poin atau badge semata.

Nah, Ionopolis memiliki salah satu teknik yang membutuhkan check-in pada Foursquare untuk menambah poin di game tersebut.

Jika mau jujur, sebenarnya remote atau tidak bagi pemilik brand tetap menguntungkan. Semakin banyak yang melakukan check-in remote, toh brand awareness juga semakin meningkat saat para pengguna 'latah viral' tersebut beraksi.

Permasalahan yang ada kini lebih terletak pada etika pribadi pengguna Foursquare saat mereka melakukan check-in.

Suhendar mengaku telah memiliki strategi sendiri untuk mencegah para 'jumper' Foursquare tersebut beraksi. Untuk mengantisipasi hal ini, Ionopolis memiliki tim verifikasi sendiri. Dengan verifikasi lokasi, beberapa remoter mungkin dapat diantisipasi. Sayang Suhendar tidak menjelaskan teknis verifikasi tersebut.

Lepas dari itu semua, etika check-in Foursquare pada intinya terletak pada pribadi masing-masing. Toh, yang penting brand awarness suatu produk tetap meningkat. Dan itulah realita yang terjadi di Indonesia saat ini.

Β 

(fw/rou)




Hide Ads