Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Catatan Nol Kilobyte
Inception Insiden Pemblokiran BlackBerry di Indonesia
Catatan Nol Kilobyte

Inception Insiden Pemblokiran BlackBerry di Indonesia


- detikInet

Jakarta - "What's the most resilient parasite? An Idea. A single idea from the human mind can build cities. An idea can transform the world and rewrite all the rules," kata Cobb, karakter dalam film Inception.

Dalam film Inception (2010), Christopher Nolan seakan hendak menunjukkan pada penontonnya, seberapa kuat sebuah ide itu sebenarnya. Cetusan pikiran yang kadang hanya lewat. Selentingan ide, secercah pemikiran atau hanya celetukan gagasan, sebenarnya punya kekuatan yang kadang sulit untuk dibayangkan.

Demikian pula dengan gagasan bahwa layanan BlackBerry akan diblokir di Indonesia. Mari kita telusuri, mengapa sebagian orang sempat percaya bahwa hal itu benar-benar akan terjadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada awalnya, yang punya ide memblokir layanan BlackBerry adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan India. Arab Saudi pun sempat benar-benar melakukan itu, meski selama 4 jam saja.

Ide sederhana bahwa BlackBerry bisa diblokir kemudian tertanam di kepala mereka yang mengetahui berita itu. Hingga kemudian, muncul pula ide bahwa di Indonesia 'bukan tidak mungkin' hal itu akan terjadi.

"Concern beberapa negara soal keamanan internet dan email BlackBerry sama dengan Indonesia. Jadi bukan tidak mungkin kalau BlackBerry tidak buka server di sini, juga sama nasibnya (diblokir-red.)," tegas Heru Sutadi dari Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia.

Ide itu lalu berkembang lagi, seperti sempat diberitakan sebuah kantor berita asing, bahwa Indonesia 'sedang mempertimbangkan untuk mengikuti jejak Arab Saudi memblokir BlackBerry'.

Sampai di Kanada, seperti diberitakan di sebuah media lokal di sana, ide ini sudah berubah lagi menjadi: Indonesia mengikuti Arab Saudi, akan lakukan pemblokiran pada layanan BlackBerry.



"Eventually, She tells me the truth. That she was possessed by an idea, a very simple idea, that our world wasn't real and in order to get back to the reality, We'll have to kill ourselves," ujar Cobb dalam Inception.

Dalam film itu, tokoh Cobb menanamkan ide pada istrinya lewat sebuah proses bernama Inception. Ide itu kemudian diterima oleh sang istri secara tragis sebagai sebuah kenyataan.

Mekarnya ide soal pemblokiran BlackBerry bisa diamati pada situs mikroblog Twitter. Riuhnya timeline soal pemblokiran BlackBerry bermula pada Rabu malam (4 Agustus 2010) hingga Kamis (5 Agustus 2010).

Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring sebenarnya sudah melakukan langkah yang tepat lewat Twitternya malam itu. Ia membuat pernyataan tegas bahwa tak akan memblokir layanan BlackBerry di Indonesia.

Tapi ide yang tertanam di benak masyarakat rupanya sudah tak bisa dibendung. Sebuah gagasan tumbuh di bawah sadar: pemerintah Indonesia akan memblokir layanan BlackBerry.

Gagasan itu bisa tetap hidup karena dianggap cocok dengan gaya pemerintahan saat ini. Sebelumnya publik sudah tahu bahwa Kominfo memerintahkan blokir konten porno.

Catatan peristiwa pun menunjukkan bahwa Kominfo pernah memblokir masuknya perangkat BlackBerry ke Indonesia. Waktu itu dengan alasan BlackBerry tak punya Service Center di Tanah Air.

Tak heran jika ide pemblokiran layanan BlackBerry dianggap sebagai hal yang wajar dilakukan oleh pemerintahan saat ini. Jumat (6 Agustus 2010) bahkan muncul pesan berantai melalui BlackBerry Messenger, bahwa layanan itu akan diblokir di Indonesia pada pukul 22:00 malam.



"Our dreams, they feel real while we're in them right? Its only when we wake up then we realize that something was actually strange!" kata Cobb.

Coba bandingkan gagasan bahwa BlackBerry akan diblokir di Indonesia dengan fakta-fakta yang ada? Boleh dibilang, gagasan itu menjadi 'mati angin' karena nyaris semua fakta menunjuk ke arah yang sebaliknya.

Mulai dari pihak regulator yang notabene adalah pengguna BlackBerry juga. Hingga bagaimana gadget tersebut telah membantu memperkenalkan internet, dan layanan web seperti Twitter, pada banyak masyarakat Indonesia.

Operator pun rasanya, diam-diam atau terang-terangan, masih belum rela layanan BlackBerry dimatikan sepihak. Sedikit atau banyak, pendapatan dari BlackBerry tentu masih diinginkan.

Toh ide itu tetap saja hidup dan berkembangbiak. 'Insiden pemblokiran BlackBerry di Indonesia' menunjukkan bahwa ide memang tak bisa dibunuh. Bahkan saat dihadapkan pada fakta, gagasan yang salah kaprah pun belum tentu mati.


Catatan Nol Kilobyte adalah lintasan pemikiran dari Wicak Hidayat, Managing Editor / Redaktur Pelaksana detikINET.com. Opini ini merupakan pendapatnya pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempatnya bekerja.

(wsh/wsh)







Hide Ads