Pernyataan ini disampaikan menteri saat menyerahkan bantuan komputer bersama Indosat di SMP-SMU Nurul Fikri Islamic Boarding School, di Desa Cibodas, Maribaya, Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (31/7/2010).
Tifatul sendiri merasa khawatir melihat data dari Komisi Perlindungan Anak (KPA) yang menyebutkan bahwa perilaku remaja dan anak sekolah saat ini sudah sangat mengkhawatirkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, berdasarkan riset dari KPA, katanya ada 97% anak sekolah di 12 kota besar di Indonesia yang pernah nonton film porno. "Dalam riset ataupun survei, angka tersebut artinya (hampir) 100%. Karena ada sampling error sekitar 3-5 persen. Jadi kalau 97% itu bisa dibilang 100%. Ini mengkhawatirkan," ujarnya.
Masih melanjutkan paparannya, Tifatul mengakatan bahwa dari data tersebut, diketahui sebanyak 92,7% pernah berciuman (kissing), bercumbu (petting), bahkan melakukan oral seks. Lebih lanjut, menurutnya, 62,7% anak SMP pernah berzina dan 21,2% siswi SMA pernah aborsi.
"Salah satu penyebabnya dari pornografi. Kita harus melakukan sesuatu. Penyaringan konten pornografi jadi salah satu cara kita untuk mencegah hal-hal tersebut," kata menteri coba meyakinkan.
Dalam kesempatan ini, Indosat turut mendukung langkah menteri dengan menyerahkan bantuan 40 unit komputer beserta akses internet IM2 untuk meningkatkan sarana edukasi internet dan teknologi komunikasi informasi (ICT) di sekolah.
Director and Chief Wholesale and Infrastructure Officer Indosat, Fadzri Sentosa mengatakan pihaknya konsisten dengan komitmennya dalam memajukan dunia pendidikan. "Saat ini ada 103 sekolah di seluruh Indonesia yang kita bantu, dan 16 sekolah di antaranya ada di Jawa Barat," pungkasnya.
Β
(rou/rou)