Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Web 2.0
YouTube Direct 2.0, Era Kebangkitan Jurnalisme Publik
Kolom Web 2.0

YouTube Direct 2.0, Era Kebangkitan Jurnalisme Publik


- detikInet

Jakarta - YouTube memiliki sebuah fitur baru bernama YouTube Direct. Semangat jurnalisme publik diharapkan bisa bangkit, dengan kemudahan fitur ini.

Jurnalisme publik atau lebih akrab disebut citizen journalism mengandung pengertian bentuk reportase dari warga kota/negara yang memainkan peran aktif dalam proses pengumpulan, pelaporan, analisa, serta diseminasi berita dan informasi. Dalam hal, ini tentu konten yang diusung adalah video.

Nah, berkaitan dengan konsep citizen journalism tersebut, YouTube Direct memungkinkan pengguna untuk mengupload video secara langsung ke sebuah situs.Β 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Misalnya, saat seorang warga mengabadikan peristiwa kebakaran dan menguploadnya langsung di YouTube. Ia bisa langsung menampilkan hasil beritanya secara langsung dan mudah di sebuah situs berita --dengan catatan, situs berita tersebut juga menerima konten dari YouTube Direct.

Di luar Indonesia, konsep jurnalisme --YouTube-- seperti ini sudah diaplikasikan beberapa media seperti Al Jazeera, dengan interactive Al Jazeera-nya, atau Chicago Tribune dengan portal citizen journalism mereka bernama 'Your Video'.

Bagaimana dampaknya?

Bagi beberapa situs berita, hal ini tentu lebih memudahkan proses karya jurnalistik mereka. Karena setiap warga bisa menjadi seorang video-jurnalis. Lagipula dengan laporan langsung dari warga, sebuah nilai berita tentu bisa lebih objektif, tanpa ditunggangi beberapa kepentingan pemilik media.

Bagi perusahaan, mereka bisa memanfaatkan fitur ini untuk memanfaatkan video promosi gratis mengenai suatu brand. Selain itu, konsep ini juga bisa digunakan untuk melakukan kampanye sosial.

Dengan YouTube Direct, kesempatan menghubungkan konten video YouTube dan organisasi tertentu menjadi tanpa batas, serta lebih mudah. Ini merupakan simbiosis mutualisme bagi kedua pihak. Bagi publik, otomatis berita/konten mereka tentu lebih dilihat banyak orang. Bagi media, tentu mereka lebih menghemat kapasitas server, karena data tersimpan pada server milik YouTube.Β 

Sebenarnya YouTube Direct ini sudah ada semenjak tahun lalu. YouTube telah bekerjasama dengan 400 media partner di seluruh dunia, yang memanfaatkan YouTube di situs mereka. Beberapa diantaranya adalah: ABC News, Tribune Company, Gannett, Al Jazeera, ITN News, Huffington Post, NPR, Politico, San Francisco Chronicle, atau Washington Post. Kini YouTube telah memperbarui konten ini.

YouTube Direct 2.0 hadir dengan segelintir upgrade yang cukup penting. Alhasil sebuah situs kini dapat dengan mudah mengkustomisasi platform mereka, sesuai kebutuhan.

Apakah fitur-fitur utama YouTube Direct 2.0?

Berdasar informasi dari YouTube yang dilansir detikINET, Selasa (27/4/2010) berikut ini adalah beberapa poin fitur terbaru:
  • Dibangun berdasar API YouTube. Alhasil solusi open source 100% ini menjanjikan proses integrasi yang lebih mudah.
  • Tampilan yang dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan.
  • Selain video, pengguna juga bisa mengupload foto.
  • Ada panel moderasi, yang memudahkan seorang editor citizen journalism menolak video yang kurang sesuai kriteria mereka.
  • Semua video yang disetujui editor, bakal disertai link asli situs tersebut saat ditayangkan di YouTube.
  • Tersedia mobile application code bagi iPhone dan Android.
  • Kemampuan untuk melihat dan mengedit caption sebuah video, yang telah disubmit.

Bagi media yang telah menggunakannya, YouTube menyarankan agar mereka mengupgrade ke versi YouTube Direct 2.0. Bagi pengembang yang berminat, bisa berkenalan dan mendaftar API YouTube, dengan bergabung keΒ Google Group berikut.

Di era web 2.0, kehadiran handset multifungsi seperti BlackBerry, iPhone, Android, atau smartphone lain kini dapat membuat warga biasa menjadi seorang jurnalis.Β 

Di Indonesia, perkembangan jaman dengan iklim politik yang tak sehat acap kali menimbulkan kebingungan ranah publik. Apalagi saat ini banyak tunggangan 'kepentingan' yang hadir di balik sebuah berita. Yang ada kita menjadi mundur, dengan 'jarum hipodermik' bersifat satu arah yang disuntikan media. Padahal kita jelas hidup di era komunikasi dua arah.

Jurnalisme publik seharusnya menjadi solusi di era keterbukaan informasi saat ini. Media diharapkan melihat berita secara cover both side, tanpa kepentingan rating semata, dengan membuka informasi seluas-luasnya kepada publik untuk berpartisipasi. Selamat datang di era Jurnalisme 2.0Β 


Penulis, Fajar Widiantoro, adalah wartawan detikINET. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi atau tempatnya bekerja.
(fw/wsh)







Hide Ads