"Aksi itu sama sekali tidak salah, justru biar masyarakat ikut aware, dan ada transparansi," ujar M. Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) kepada detikINET, Senin (25/1/2010).Β Β Β
Penilaian pria yang disapa Didin Pataka ini sontak menangkis tudingan Roy Suryo yang sebelumnya mengatakan bahwa aksi Ruby Alamsyah, seorang ahli forensik digital di televisi melanggar etika dan memancing masyarakat untuk mengikuti tindak kejahatan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini, lanjutnya, berbeda dengan kebijakan perbankan di negara maju. Di Jepang misalnya, Dewan Sekuriti Keamanan Nasional di Negeri Sakura tersebut malah menghimbau para lembaga -- termasuk bank -- untuk terbuka ketika diterpa insiden.
"Misalnya ketika ada pembobolan sistem di bank, mereka malah harus membuka masalah itu ke publik karena perbankan di sana sudah online semua," ujar Didin.
Dengan cara tersebut, masih kata Didin, praktis akan membuat nasabah dan bank-bank lain menjadi waspada. "Nah tindakan ini akan menolong industri perbankan," tandasnya.
Pun demikian, Didin berpesan, penayangan demo pembobolan nasabah bank yang belakangan marak di layar kaca harus tetap menjaga etika, jangan disampaikan terlalu detail sampai seperti step by step.
"Boleh saja sebagai ilustrasi yang cukup menunjukkan ke publik bahwa itu bisa dilakukan," pungkasnya. (ash/wsh)