Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
2010, Waktunya YouTube Jadi 'Sapi Perah' Google

2010, Waktunya YouTube Jadi 'Sapi Perah' Google


- detikInet

Jakarta - YouTube saat ini dianggap kurang digarap secara maksimal oleh Google selaku sang pemilik. Dari sisi popularitas di jagat dunia maya, YouTube memang patut diacungi jempol, namun jika penilaian dilakukan dari sisi bisnis, situs video sharing ini kurang digeber.

Dan kini ketika sudah berjalan tiga tahun sejak akuisisi dilakukan pada 2007 lalu, asa untuk membalas jasa balik modal wajib ditancapkan. Para analis pun memprediksi pada 2010 merupakan saatnya YouTube untuk menjadi 'sapi perah' Google.

Douglas Anmuth, analis dari Barclays mengatakan, Google sepertinya juga sudah menyadari hal ini dan telah membuat skema bisnis nyata agar YouTube lebih berkontribusi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memperbaiki sistem periklanan sejatinya akan sangat membantu YouTube. Namun dengan hadirnya lebih dari 1 miliar video dalam seminggu di situs ini, kami percaya bahwa situs ini akan sangat menguntungkan dan bisa menarik produk-produk branded," jelasnya, dikutip detikINET dari Softpedia, Selasa (19/1/2010).

Bahkan, Anmuth berani memproyeksikan bahwa pada 2010 ini YouTube bakal mampu menyumbang revenue hingga US$ 700 juta ke Google.

Angka yang besar? Tidak juga, sebab meski belum ada keterangan resmi mengenai berapa besar biaya operasional yang telah dihabiskan YouTube, namun ada sebuah laporan yang menyebutkan bahwa biaya yang dihabiskan situs ini sampai US$ 710. Artinya, Google masih tetap nombok.

Namun kesahihan data tersebut memang masih harus diklarifikasi, Google sendiri masih tetap optimistis akan potensi YouTube menjadi 'sapi perah' mereka. "YouTube akan mulai memberikan keuntungan, tidak akan lama lagi," tukas juru bicara Google.

Keyakinan ini dipertegas dengan adanya perubahan sistem iklan serta rencana kerja sama besar yang dianggap juga bakal menarik dana segar. (ash/faw)







Hide Ads