Meski akhirnya pria yang diduga anggota kesatuan Polda Sumatera Selatan ini meminta maaf secara terbuka, namun opini publik yang menghujat dirinya, serta melebar ke Polri, demikian deras beberapa hari pasca kejadian.Β
Di sisi lain, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, pada sela-sela lokakarya Polri Membuka Ruang Transparan Publik, pada 11 November 2009, menyoroti secara khusus keberadaan situs jejaring social, Facebook.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka, rasa-rasanya, jenderal bintang empat alumnus Akademi Kepolisian tahun 1974 itu, intensif mengamati portal buatan Mark Zuckerberg. Suara masyarakat yang mayoritas namun selama ini diam (silent majority), belakangan memang begitu kentara.
Lihatlah grup Facebook bertajuk Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto yang diinisiasi Usman Yasin pada Kamis siang, 29 Oktober, memunculkan simpati amat deras ke KPK plus hujatan ke polisi.
Dalam empat hari kehadirannya, 500.000 ikut gerakan ini. Terhitung Sabtu pagi, 7 November 2009, atau sembilan hari setelah digagas, berhasil menembus satu juta pendukung! Ini, disebut-sebut, grup FB terbesar sekaligus tercepat di dunia.Β Β Β
Dukungan silent majority ini kemudian berkembang dan semakin membuka mata aparat, manakala terjadi perilaku melawan arus yang dilakukan Evan Brimob tadi, pada Kamis pagi, 5 November 2009.
Di kala suara kebanyakan di grup mendukung Chandra-Bibit-KPK, Evan yang saat itu menulis di warnet, menulis begini, "Polri gak butuh masyarakat, tapi masyarakat yg butuh Polri. Maju terus kepolisian Indonesia, telan hidup2 cicak kecil."
Dengannya, antipati publik ke kepolisian (di dunia maya pun) kian memuncak. Opini, sekaligus tingkat kepercayaan, terhadap aparat seragam cokelat itu pun menjurus titik nadir terendah sepanjang sejarah.
Kapolri dibuat membuka mata. Atensinya tercurah kepada sebuah situs jejaring sosial yang dengan terang-terangan, baik sikap maupun identitas pengirimnya, menunjukkan sikap resistensi pada institusinya.
Kini, siapapun di negeri ini, tak bisa memandang remeh situs buatan Mark Zuckerberg, mahasiswa Stanford drop-out itu. Skalabilitas serta penetrasinya di ruang publik terasa makin massif, mungkin bisa melebihi kekuatan media massa konvensional.
Tengok data yang dilansir checkfacebook.com pada 9 November lalu. Lembaga spesialis pemeringkat kunjungan situs itu menyebutkan pengguna Facebook asal Indonesia mendekati angka 12 juta, tepatnya 11.759.980 user.
Dari angka tersebut, 47,04% diantaranya atau sekitar 5,53 juta adalah pengguna aktif. Tiras sebuah koran umum terbesar di Indonesia saat ini pun disebut-sebut, tidak pernah melewati angka 600.000 cetakan per harinya.
Data AC Nielsen pada akhir 2008 juga menyebutkan bahwa oplah koran di Indonesia turun 4% sepanjang tahun lalu. Selanjutnya majalah dan tabloid masing-masing turun 24% dan 12% namun penonton teve naik 2% dan pengakses Internet 17%.
"Selain 12 juta pengguna, dalam sepekan pertama November 2009, pengguna baru Facebook tumbuh sebesar 752.640 atau menyumbang kontribusi 6,84% terhadap pertumbuhan keseluruhan," tulis checkfacebook.com.
Dengan kontribusi tersebut, hal ini menempatkan Indonesia sebagai negara pengguna Facebook terbesar urutan ke tujuh, sekaligus negara pertumbuhan pengguna terbesar urutan ke sembilan di seantero jagat.
Dari sisi pengguna, Indonesia berhasil menyalip pengguna dua negara maju di dunia: Spanyol, dan Australia. Rankingnya hanya 'kalah' dari Amerika Serikat, Inggris, Turki, Perancis, Kanada, dan Italia, yang berada di atas Indonesia
Akan tetapi, selisih pengguna situs pertemanan di negeri ini dengan pengguna negara maju seperti Italia, Kanada, Perancis, hanya berkisar 1,6 juta pengguna saja. Sebuah kondisi yang tampaknya tinggal menunggu waktu saja.
Facebook, situs yang semula sekedar mengakomidir pribadi Zuckerberg yang introvert, begitu mudah menghubungkan manusia. Menengok grup FB Bibit-Chandra, masyarakat bisa satu sikap pada suatu ide, meski tidak kenal secara pribadi satu lainnya.Β
Model dan pergerakan serupa telah ditampung berbagai situs jejaring serupa, meski beda pendekatan. Mulai MySpace yang cenderung merangkul segmen musik, Twitter (pertemanan), Linkedin (profesional), Myyearbooks (alumni).
Jejaring lainnya antara lain Fixster.com, Tagged.com, Classmates.com, Livejournal.com, Imeem.com, Blackplanet.com, Bebo.com, Hi5.com, dst. Khusus dari pengembang Indonesia, ada yang baru dirilis bernama okeycall.com.
Dalam tataran ilmiah, fenomena situs jejaring sosial ini merupakan bukti jitu perkiraan Don Tappscot dalam Grown Up Digital (November, 2008). Menurutnya, setelah melakukan wawancara lebih 11.000 orang, era sekarang didominasi generasi Internet.
Yakni generasi yang cenderung cuek kehidupan politik, narsis, tidak suka membaca panjang-panjang, namun berjiwa kreatif, berhati kolaboratif, berwawasan global, serta sadar bahwa kunci sukses terletak pada koneksi tanpa batas.
Maka, mari perhatikan bersama! Setelah silent majority grup FB Bibit-Chandra mampu membuat ketar-ketir penguasa (lalim), maka di masa mendatang akan kembali hadir serangan situs jejaring sosial lainnya, bagi mereka yang memimpin tidak adil.
Penulis adalah Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision. Bisa dihubungi melalui redaksi@detikinet.com
(rou/rou)