Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Catatan Nol Kilobyte
Musik di Persimpangan Jalan
Catatan Nol Kilobyte

Musik di Persimpangan Jalan


- detikInet

Jakarta - Kaset musik, dengan pita-pita magnetik, bagi generasi saat ini ibaratnya piringan hitam di era 90-an. Semakin lawas dan ditinggalkan untuk beralih ke format yang makin digjaya: musik digital.

Stockton Street, San Francisco, adalah contoh mudah betapa dunia musik sudah beralih dari era lawas ke era digital. Di satu pojok, antara Stockton dan Ellis, adalah toko Apple di seberangnya, pojokan Stockon dan Market, adalah Virgin Megastore.

Kontras antara keduanya benar-benar terasa. Apple Store terlihat kinclong dengan bentuk kotak, kaca-kaca lebar, dominasi interior warna putih, berjejernya perangkat iPod hingga Macbook terbaru, para penjaja berkaos warna-warni dan tentu saja Genius Bar di lantai dua yang bagaikan lampu neon pengundang nyamuk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun di seberang, Virgin Megastore bagai sebuah bangunan tua tak terurus. Interiornya kosong, tak ada jajaran CD apalagi kaset yang tampak. Ya, toko itu agaknya sudah lama ditinggalkan dan hanya menyisakan logo merah di atas pintu.

Tapi, bicara format digital bukan hanya bicara format musik ala MP3, AAC atau format lainnya yang bersemayam di gadget ala iPod. Tapi juga bicara musik dalam format game.

Game populer seperti Guitar Hero dan Rock Band makin hari makin menjelma sebagai saluran distribusi musik yang disukai. Pengumuman ketersediaan track-track untuk kedua game itu semakin lama mirip pengumuman ketersediaan album terbaru musisi-musisi dunia.

Faktor The Beatles

Game The Beatles: Rock Band menjadi monumen era distribusi melalui game. Game tersebut memang 'mimpi basah' bagi penggemar The Beatles. Bukan hanya menampilkan berbagai lagu-lagu The Beatles --yang bisa dimainkan oleh penggemarnya dalam sebuah aksi 'berkhayal jadi bintang' yang luar biasa-- game itu menawarkan dokumentasi karir nyaris lengkap dari empat pemuda asal Liverpool yang pernah menyebut diri "lebih besar dari Jesus".

Grup musik lain pun 'ngiler' melihat perlakuan bak dewa yang diterima The Beatles dalam gamenya. Sementara di sisi lain, ikon musik alternatif Kurt Cobain dilecehkan sedemikian rupa dalam game Guitar Hero 5.

U2 dan Queen --paling tidak personil dari kedua band itu-- adalah yang awal-awal menunjukkan rasa irinya pada The Beatles. Kedua grup yang punya pengaruh besar dalam dunia musik itu pun disebut sedang mempertimbangkan dengan serius kemungkinan mereka muncul sebagai game.

Bagi penggemarnya hal ini bisa jadi akan disambut baik. Bayangkan memainkan lagu 'Sunday Bloody Sunday' dengan suasana pemberontakan anak muda khas U2 atau glamornya lagu-lagu Queen seperti 'Bohemian Rhapsody'.

Tentu sukses atau tidaknya musisi lain sebagai game masih belum bisa diprediksi. The Beatles mungkin sudah punya cukup amunisi sebagai legenda musik sehingga bisa disambut dengan tangan terbuka di dunia game. Bagaimana dengan band lain? Apalagi jika mempertimbangkan mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan game ala The Beatles: Rock Band.

Banyak grup musik lain sudah menyadari pentingnya membuat lagu-lagu mereka tersedia untuk diunduh pada game-game seperti Guitar Hero atau Rock Band. Mereka agaknya sadar, bisa jadi sebagian besar masyarakat baru akan mendengarkan lagu mereka setelah memainkannya dalam game.

Jika di masa lalu, pembicaraan yang lazim adalah: "Udah denger lagunya U2 yang baru? Keren ya!"

Maka sekarang dan nanti, penggemar musik akan bicara: "Udah mainin lagunya U2 yang baru? Bagian gitar solonya susah juga ya?"

It's All About The Music

Apapun wujud distribusi yang dipilih, pada akhirnya musik adalah soal musik. iPod dan 'saudara-saudaranya' menawarkan cara untuk menyimpan koleksi musik tanpa harus menggunakan kotak sepatu (untuk kaset) atau lemari kayu (piringan hitam).

Sedangkan game seperti Guitar Hero dan Rock Band adalah cara baru dalam menikmati musik. Pemain kedua game itu bukan hanya mendengarkan tapi juga menikmati lika-liku sebuah musik --sekaligus berkhayal menjadi musisi terkenal.

Dalam game, liukan gitar, gempuran bass atau derasnya drum menjadi sebuah tantangan tesendiri yang membuat gamer bisa memuji sebuah lagu. Bahkan, merasakan sulitnya melompat dari satu kunci ke kunci lain dalam ritme yang teratur bisa jadi akan membantu gamer mengerti betapa sulitnya membuat musik.

Pada akhirnya musik adalah soal musik. Mulai dari pengamen jalanan yang mengobati kebosanan hingga konser mewah penuh letupan kembang api dan permainan cahaya. Mulai dari ringkihan suara dari kaset lawas hingga jernihnya suara di format musik Audiophile: musik adalah musik.

Tak perlu berdebat apakah musik akan menjadi begini atau begitu, apakah kaset pita magnetik akan mati diganti musik digital yang bisa diunduh ke dalam game. Mari buka pikiran untuk segala kemungkinan, format ulang segala prasangka dari hardisk kelabu di dalam kepala, mari kembali ke nol kilobyte.


Catatan Nol Kilobyte adalah opini dari Wicak Hidayat, Managing Editor / Redaktur Pelaksana detikINET.com. Opini ini merupakan pendapatnya pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempatnya bekerja.
(wsh/wsh)






Hide Ads