Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Telematika
Mbah Surip dan RBT Miliaran Rupiah
Kolom Telematika

Mbah Surip dan RBT Miliaran Rupiah


- detikInet

Jakarta - Kepergian Mbah Surip meninggalkan banyak cerita. Misalnya saja, tentang keinginannya membeli helikopter dengan uang hasil penjualan ring back tone (RBT) yang mencapai miliaran rupiah.

Mbah Surip mendadak jadi miliuner sejak hits-nya 'Tak Gendong' laris manis di pasaran. Selain lagunya yang enak didendang dan mampu menghibur banyak orang, sosoknya yang bersahaja dan penuh canda tawa membuat seniman satu ini makin bernilai jual tinggi.

Tak heran kalau dua bulan belakangan ini, RBT dari si Mbah selalu masuk sepuluh besar dalam pengunduhan nada sapa di ponsel. RBT 'Tak Gendong' digunakan 500 ribu pelanggan Telkomsel, 100 ribu pelanggan Indosat, dan 70 ribu pelanggan Excelcomindo Pratama (XL).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Itu belum termasuk operator lain, semisal Telkom (Flexi), Bakrie Telecom (Esia), Mobile-8 Telecom (Fren dan Hepi), Hutchison CP Telecom (Tri/3), Natrindo Telepon Seluler (Axis), dan Smart Telecom. Maka wajar saja jika setiap bulannya, si Mbah bisa mengantungi sedikitnya Rp 4,5 miliar.

"Rezeki Mbah ternyata banyak juga, ya. Ha ha ha ha..," celetuk pria yang punya nama lengkap Urip Ariyanto itu, 60, lengkap dengan tawanya yang khas di telinga semua orang.

Namun itu dulu, beberapa waktu lalu sebelum ia wafat. Sekarang yang ada hanya sepenggal kisah sukses yang tersisa, dari seniman jalanan yang bisa jadi miliuner berkat bisnis konten bernama RBT.

Bisnis Menggiurkan


Siapa sangka, nada sambung RBT yang kerap menyapa kita sebelum panggilan telepon terkoneksi dua arah, bakal jadi bisnis besar. Kehadiran RBT untuk kali pertama di 2005, bak dewa penyelamat industri musik Tanah Air di tengah maraknya pembajakan kaset dan CD.

Siapa juga yang mengira, kalau kini, jutaan orang rela uangnya -- yang dalam bentuk pulsa -- dipotong tiap bulan hanya untuk sepenggal lagu yang harganya hampir sama dengan kisaran harga kaset maupun CD yang dijual di pasaran.

Dan anehnya lagi, nada RBT yang mereka sewa (bukan beli), tak pernah mereka nikmati sendiri. Cuma untuk sebatas prestise, ekspresi jati diri, atau bahkan cuma karena senang dengan lagunya dan ingin orang lain tahu kalau ia sedang gandrung dengan lagu itu.

Berangkat dari sepenggal lagu, nada sambung kini punya banyak turunan. Misalnya, saja suara dari artis terkenal, komedian, bahkan atlet sepakbola kaliber dunia. Bahkan, tak sedikit perusahaan yang menggunakan jingle RBT khusus sebagai bentuk promosi.

Tak hanya industri musik, RBT pun berkembang jadi lumbung uang bagi operator dan penyedia konten. Meski tak sampai 5% dari total pendapatan operator, namun
pemasukan dari RBT mampu menembus 80-90% total bisnis konten seluler yang tahun lalu mencapai Rp 3 triliun dalam setahun.

Wajar, jika kemudian Mbah Surip bisa dapat royalti miliaran rupiah dari hasil jualan sepenggal lagu. Ia sendiri bukan satu-satunya musisi yang dapat uang sebanyak itu dari bisnis RBT. Banyak nama-nama lain yang sudah lebih dulu, misalnya saja, Samsons, Peterpan, Wali, dan Hijau Daun.

Jadi mahfum juga, jika kemudian banyak pihak yang mengincar uang itu. Jauh sebelum sesukses sekarang, di awal perjalanannya RBT harus dahulu melewati jalan terjal. Apa lagi kalau bukan ribut-ribut soal hak cipta lagu.

Sejumlah pencipta lagu merasa, haknya sebagai pemegang hak cipta telah 'diperkosa'. Mereka menuntut royalti besar dari bisnis RBT ini. Entah salah siapa jika kemudian kasus ini berulang kali menghiasi berita acara di pengadilan.

Namun pastinya, RBT telah membuka cakrawala bisnis baru. Sesuatu yang awalnya mungkin sulit dibayangkan oleh seniman jalanan seperti Mbah Surip. Jadi jangan heran, kalau ia ditanya tentang fenomena bisnis ini, jawabannya cuma: "Ha ha ha ha.."

Selamat jalan, Mbah Surip...


Penulis adalah wartawan detikcom di kanal detikINET. Tulisan ini adalah opini pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempat penulis bekerja. Penulis dapat dihubungi melalui email rourry[at]detik.com atau rourry[at]detikinet.com.
(rou/ash)







Hide Ads
LIVE