Pada pertengahan 1990-an, waktu itu internet baru mulai menyentuh sendi-sendi kehidupan di Indonesia. Kabar-kabar yang menyebar lewat email, mailing list, bulletin board atau bahkan ruang ngobrol (chatroom) pun sering dianggap sebagai hal yang benar, sebenar-benarnya kabar.
Bisa jadi ini karena pada era itu sangat kental pemasungan informasi di negeri kita. Pemerintah dengan gagah mengangkangi apa yang disebut sebagai kebebasan berpendapat, terutama kalau pendapatnya disampaikan lewat media massa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, gosip, berita, fakta, kebohongan dan prasangka bercampur jadi satu bagai gado-gado atau karedok, pedasnya pun tak kalah ganas. Hingga kini pun internet masih riuh dengan kabar-kabar yang kadang sulit dibedakan mana yang benar dan mana yang hanya bohong belaka.
Gates dan Angka 666
Di era itu, muncul 'analisa' bahwa nama Bill Gates itu jika 'dibolak-balik, otak-atik dan kulak-kulik' bisa mewujud nama setan. Oke, memang tak pakai bolak-balik, jadi nama Bill Gates kalau masing-masing hurufnya diubah ke kode ASCII dan dijumlahkan, hasilnya adalah 666 yang konon merupakan angka setan.
Jelas itu hanya hoax atau keisengan belaka. Bahkan nama salah satu filantropis terbesar di dunia itu harus dituliskan Bill Gates III agar muncul angka 666, padahal lazimnya nama Gates ditulisnya 'Bill Gates'. Atau, kalau mau lengkap, 'William Henry Gates III'.
Meskipun jelas bohong, 'analisa' soal Gates dan angka 666 itu menyebar luas di internet. Sebagian besar tentunya hanya sebagai bahan candaan belaka, namun tetap saja analisa asal-asalan itu hidup.
Jobs, The Devil
Nah, soal Steve Jobs, label dedemit ini bolehlah dikenakan pada salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia TI itu. Tapi bukan karena apa-apa, bukan karena Jobs adalah semacam mahluk jadi-jadian apalagi karena ia merupakan sosok setan yang terkutuk itu.
Dalam Bahasa Inggris ada ungkapan berbunyi 'devil is in the detail'. Nah, kisah hidup Jobs di Apple ramai dengan legenda bagaimana Jobs sangat memperhatikan detil. Konon, pada satu kesempatan, Jobs pernah meminta agar jeroan komputer buatan Apple juga memiliki penampakan yang indah seperti luarnya.
Asal-usul asal-asalan lain dari julukan ini adalah dari kalangan industri rekaman musik. Konon, membuat perjanjian dengan iTunes bisa diibaratkan membuat perjanjian dengan setan (to make a deal with the devil).
Istilah tersebut muncul karena iTunes sudah menjadi sumber penghasilan yang signifikan di tengah menurunnya penjualan album musik tradisional. Perusahaan rekaman tak mungkin mengabaikan iTunes, namun di sisi lain mereka kerap harus 'tunduk' pada syarat-syarat yang ditetapkan Apple.
Linus dan Komunisme
Β
Linus Torvalds, pria yang namanya melekat pada sistem operasi Linux, tak pernah disamakan dengan setan atau dedemit atau mahluk gaib apapun. Mungkin salah satu sebabnya adalah Linus tak pernah lekat dengan citra jahat yang menggelora dari sebuah perusahaan besar.
Namun julukan ajaib lain pernah dilontarkan pada Linus. Ia disebut sebagai seorang komunis dan bahwa sistem operasi Open Source yang dikembangkannya itu merupakan model komunisme.
Nah, tulisan ini tidak hendak mengatakan apakah idealisme komunis merupakan sesuatu yang baik atau buruk. Pilihan adalah pilihan dan ada baiknya jika setiap orang menghormati pilihan yang telah diambil orang lain.
Hanya saja, stigma komunisme yang masih kental di Amerika Serikat, ditambah gagasan bahwa komunisme adalah musuh dari kapitalisme, menghidupkan selorohan ini. Linus pun mendapatkan cat merah di sebagian kalangan, dan ini dianggap sebagai suatu hal yang negatif.
Jangan Ada Kebencian
Sikap 'membenci Microsoft' di kalangan simpatisan Open Source pun kadang muncul. Padahal Linus sendiri sudah berkata tak perduli dengan jaya atau hancurnya Microsoft, itu bukan tujuannya membuat Linux.
Dan terakhir, kala Microsoft menyumbangkan beberapa ribu baris kodenya ke Open Source, Linus pun menyambut baik. Membenci Microsoft, ujarnya, merupakan sebuah penyakit yang harus dihindari.
Bob Tutupoli bilang, memang lidah tak bertulang, tak berbekas kata-kata. Di internet, kata-kata itu jadi mudah sekali meluncur, tak peduli siapa yang hancur.
Tapi apakah lantas internet melulu dianggap sebagai sumber kebencian? Apakah kemudian internet menjadi sebuah benda yang tak layak digunakan karena lebih banyak mendekatkan penggunanya ke 'neraka' daripada 'surga'?
Gates bukan setan, Jobs memang dedemit tapi dalam arti yang baik dan entah Linus Torvalds komunis atau bukan tidak menjadikan ia orang yang lebih buruk. Simpatisan masing-masing kubu (Microsoft, Apple, Linux) pasti punya banyak pekerjaan lain yang lebih penting daripada sekadar memupuk prasangka soal kubu lainnya.
Awalnya cuma dari prasangka, lama kelamaan bisa jadi benci. Padahal benci itu bisa jadi bumerang bagi diri sendiri. Jadi.. mari kita format ulang semua prasangka itu. Mari kita kembali jernih, kembali ke nol kilobyte.
Catatan Nol Kilobyte adalah opini dari Wicak Hidayat, Managing Editor / Redaktur Pelaksana detikINET.com. Opini ini merupakan pendapatnya pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempatnya bekerja.
(wsh/wsh)