Penyakit tropis yang paling berbahaya menurut PBB ini, sering kali menjangkiti negara berkembang seperti Indonesia. Sebagian solusinya hanya berkutat di perkotaan.
Bagaimana dengan di pedesaan dan daerah pelosok lainnya? Berapa banyak lagi manusia yang akan terjangkit penyakit mematikan ini?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Solusi ini memungkinkan seorang pasien yang tinggal di pedesaan, tetap dapat pelayanan kesehatan dan diagnosis dokter dari kota besar.
Inovasi dari David Samuel dkk yang tergabung dalam tim Big Bang Indonesia ini juga merancang perangkat keras untuk melakukan pemeriksaan di laboratorium.
Tak hanya itu, Moses juga dilengkapi aplikasi pemetaan yang memudahkan pemerintah melakukan studi episdemologis terhadap penyakit tertentu, sesuai
sejarah dan kondisi geografisnya.
Dengan metode ini, seorang dokter di kota, tetap bisa memberikan dosis obat yang sesuai dan cara perawatan yang benar terhadap pasien.
Pengimplementasian aplikasi ini diklaim bisa menghemat 30,9% dibanding biaya yang dikeluarkan dalam enam bulan, jika harus mengirimkan dokter dan tenaga ahli ke daerah terpencil.
Saat ini MOSES tengah dikembangkan lebih lanjut di bawah bimbingan I2TB (Inkubator Inovasi Telematika Bandung), sebuah lembaga inkubasi yang diinisiasi
Departemen Komunikasi dan Informatika.
"Software ini dibuat untuk mengatasi masalah penyebaran tenaga medis yang tidak merata. Sehingga, masyarakat di daerah terpencil pun tetap dapat pelayanan
kesehatan yang layak," jelas David tentang karya timnya, yang sempat menyabet juara pertama di ajang Imagine Cup 2009.
Apakah MOSES juga bisa berjaya di ajang Indonesia ICT Award (INAICTA) 2009? Kita tunggu saja hasil penjuriannya nanti malam.
(rou/ash)